penyakit tanaman yang diinduksi oleh bakteri

Biasanya tanaman sakit menunjukkan gejala yang khusus. Gejala (symptom) adalah perubahan-perubahan yang ditunjukkan oleh tumbuhan itu sendiri, sebagai akibat dari adanya penyebab penyakit. Gejala-gejala dapat dibagi menjadi tiga tipe pokok, yaitu:

  1. Gejala nekrotik,disebabkan karena adanya kerusakan pada sel atau bagian sel, atau matinya sel, meliputi: nekrosis, hidrosis, klorosis, layu, gosong, mat pucuk, busuk, rebah semai, kanker, eksudasi, .
  2. Gejala hipoplastik, disebabkan karena terhambat atau terhentinya pertumbuhan sel (underdevelopment), meliputi: kerdil/atropi, perubahan simetri, klorosis, etiolas, pemusaran.
  3. Gejala hiperplastik, disebabkan karena pertumbuhan sel yang lebh dari biasa (overdevelopment), meliputi: sapu setan, proplepis, nyali, intumesensia, erinosisenggulung atau mengeriting, fasiasi, pembentukan alat yang luara biasa, kudis, rontoknya alat-alat, perubahan warna.

Agar timbul penyakit, mikroba patogen harus berhubungan dengan jarinan tanaman yang hidup dan berkembang di dalamnya. Aktivitas mikroba patogen dalam tubuh tanaman terutama bersifat kimiawi Karena itu pengaruh yang disebabkan oleh mikroba patogen pada tanaman  hampir seluruhnya akibat  reaksi-reaksi biokimia  yang terjadi antara substansi yang dihasilkan  oleh patogen dengan substansi yang terdapat dalam badan tanaman, atau yang dientuk oleh tanaman. Kelompok-kelompok utama substansi yang disekresikan oleh patogen dalam badan tanaman, yang menyebabkan timbulnya penyakit, baik langsung maupun tidak langsung adalah enzim, toksin, zat pengatur tumbuh, dan polisakarida pada lendir.

Pada tubuahn dikenal tiga macam ketahanan terhadap penyakit, yaitu ketahanan mekanis, ketahanan kimiawi, dan ketahanan fungsional. Ketahanana mekanis dan kimiawi terdiri atas ketahanan pasif (sifat yang menyebabakan tumbuhan tahan sudah terjadi sebelum infeksi) dan ketahanan aktif (mikroba patogen mengimbas terjadinya penghambat meluasnya patogen dalam tanaman.

A. Penyakit tanaman yang diinduksi oleh bakteri

Tidak seperti jamur, bakteri patogen tidak dapat mengadakan infeksi dengan langsung menembus permukaan tumbuhan yang utuh. Bakteri patogen ada yang masuk ke dalam badan tanaman melalui luka-luka. Xanthomonas abilineans, penyebab penyakit gom pada tebu, terbawa oleh parang yang dipakai untuk memotong batang tebu bibit. Karena adanya tekanaan negatif di dalam pembuluh-pembuluh akibat pemotongan, baktei terisap masuk ke dalam pembuluh, sehingga terlindung terhadap faktor lingkngan yang kurang baik. Pseudomonas solanacearum, penyebab penyakit darah pada pisang melalui luka yang terjadi pada waktu menebang pisang. Luka karena hewan dapat menjadi jalan masuk bagi bakteri patogen tertentu. Bakteri patogen sering mengadakan infeksi melalui lubang alami, misalnya mulut kulit. Pada tumbuhan  tertentu mulut kulit ada yang mengalami modifikasi menjadi pori air, (hidatoda, emissaria), khususnya yang terdapat di tepi daun. Pada waktu udara lembap, terutama di waktu malam, pori air mengeluarkan tetes-tetes air, yang disebut gutasi. Jika kelembapan udara turun, penguapan daun bertambah, tetes-tetes aiar yang berada di depan pori air akan terisap masuk bersama-sama dengan bakteri patogen di dalamnya. Jadi disini bakteri terisap secara pasif.

Penyakit tanaman yang disebabkan oleh bakteri ditandai oleh berbagai gejala, termasuk bintil akar, bintik daun, layu daun dan batang, kanker, penyakit ada ranting dan daun, dan pembentukan bisul. Penyakit api, adalah suatu penyakit apel dan pohon-pohon pear, secara historis menarik karena merupakan penyakit tumbuhan yang pertama, yang mana suatu bakteri yang ditunjukkan menjadi agen yang menarik untuk diamati dan dipelajari. Pohon-pohon yang terinfeksi menunjukkan suatu kehitaman pada bunga-bunga, daun-daun, ranting-ranting dan akhirnya penyakit dapat merusak pohon secara keseluruhan, yang menyebabkan kerusakan yang parah, dan bahkan kematian. Contohnya: buah apel yang membengkak seperti bisul, dibentuk pada tanaman yang hidup, sebagai tanggapan terhadap parasit serangga atau bakteri. Bisul atau Cecidium, dibentuk ketika bahan-bahan kimia disekresikan oleh parasit yang masuk/menyerang, merangsang pembengkakan atau pertumbuhan jaringan tumbuhan dengan cepat menjadi membesar, menebal yang menutupi sekitar/sekeliling daerah infeksi/tempat infeksi atau invasi parasitik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Microsoft Encarta Encyclopedia 2004 copy 1993-2003 Microsoft corporation

Contoh lainnya yaitu kanker jeruk, sejenis penyakit jeruk di Asia dan kerabat spesies jeruk dicirikan oleh pertumbuhan gabus pada buah, daun-daun dan ranting. Contoh penyakit tanaman yang disebabkan bakteri lainnya adalah kudis (bercak atau bintik kulit) pada kentang, kanker pada tomat, bintik daun angular pada kapas, dan busuk hitam pada percabangan ranting, bisul pada mahkota bunga yang aman semua gejala tersebut terjadi secara meluas pada tumbuhan kayu dan kelompok herbasius yang diinduksi bakteri.

B. Aktivitas jamur dalam menginduksi penyakit pada tanaman

Paling banyak tipe penyakit yang berkaitan dengan tanaman disebabkan oleh jamur. Jamur menyebabkan kira-kira 100.000 penyakit tanaman termasuk 70% dari penyakit-penyakit pada sebagian besar pada hasil panen yang berdampak pada ekonomi masyarakat karena kehilangan miliaran uang setiap tahun. Penyakit tanaman ini menyebabkan penyakit meluas ke biji-biji pembibitan, tumbuhan matang (dewasa) dan tumbuhan berumur yang berdampak dalam penurunan pertumbuhan dan produksi panen. Jamur juga menyerang pohon-pohon di hutan dan tanaman berstruktur kayu.

Jamur patogen dapat masuk ke dalam badan tanamn melalui (a) luka (b) lubang alami seperti mulut kulit dan hidatoda atau (c) dengan langsung menembus permukaan tanaman yang utuh (intac). Beberapa patogen hanya dapat merusak dengan satu cara, sedangkan lainnya dengan dua cara atau lebih.

Bagian-bagian tanaman (kecuali bulu-bulu akar dan bagian bunga tertentu) tertutup oleh lapisan pelindung, baik yang terdiri atas sel hidup, maupun sel mati, misalnya epidermis dengan kutikula pada bagian daun dan batang hijau,dan periderm dan kulit gabus pada bagian-bagian yang berkayu. Jika suatu patogen tidak dapat menembus lapisan-lapisan tersebut dan tidak dapat masuk melalui mulut kulit atau hidatode, maka patogen hanyamauk melalui luka-luka.

Luka dapat terjadi karena penyebab yang bersifat anorganik maupun organik. Penyebab luka yang bersifat anorganik misalnya angin keras, petir dan sinar matahari yang terlalu kuat. Bahkan untuk penyakit tertentu luka yang terjadi karena debu yang terbawa angin dapat dipakai sebagai jalan infeksi.

Penyebab organik adalah hewan dan manusia. Manusia dengan sengaja atau tidak selalu menimbulkan luka pada tanamannya, misalnya: penyadapan, pemangkasan, pemotongan setek, pembabatan gulma, dan sebagainya.

Mikroba parasit yang masuk melalui luka dapat masuk ke dalam jaringan hidup dengan telebih dahulu berkembang dalam jaringan mati di dekatnya. Parasit dapat juga masuk ke dalam bagian yang telah dirusak oleh parasit primer kemudian menyerang jaringan sehat. Misal: Fusarium coeroleum, penyebab penyakit busuk kering pada umbi kentang. Jamur ini tidak dapat menginfeksi melalui luka pun jarang terjadi. Tetapi kalau umbi telah diserang oleh Phytophora infestans, Fusarium dapat masuk ke dalam jaringan nekrosis dan menyebar ke bagian umbi-umbi yang sehat.

Demikian pula ada jamur patogen yang melakukan infeksi melalui luka-luka yang dibuat serangga. Misalnya kumbang Podagrica javana membawa spora Phoma sabdariffa dan menggigit daun-daun rosella (Hibiscus sabdariffa) sehingga Phoma dapat melakukan infeksi melalui luka-luka tadi.

Lubang-lubang alami yang sering dipakai sebagai jalan masuk jamur patogen adalah mulut kulit (stomata) Banyak jamur patogen hanya dapat mauk melalui mulut kulit, misalnya Plasospor. Setelah mencapai mulut kulit, ujung pembuluh kecambah membesar dan membentuk apresorium. Alat ini membentuk tabung penetrasi yang masuk kelubang mulut kulit, lalu membengkak menjadi gelembung substoma di dalam ruang udar Dari gelembung inilah tumbuh hifa infeksi yang berkembang ke semua arah, membentuk haustorium yang mengisap makanan dari sel-sel tumbuhan inang. Dengan demikian infeksi telah terjadi. Meskipun dikatakan pada waktu malam, mulut kulit menutup, namun sebenarnya ini tidak menutup benar-benar. Sel-sel penutup mulut kulit dapat menahan invasi jamur tertentu, misalnya jamur karat Banyaknya mulut kulit dan penyebarannya  serta prilakunya dapat mempengaruhi ketahanan tumbuhan terhadap invasi. Patogen tertentu dapat melakukan infeksi melalui kelenjar madu (nectaria). Madu yang terdapat disini berfungsi sebagai alas makanan yang baik bagi patogen sebelum masuk ke dalam jaringan tanaman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(sumber: Semangun, 2001:162)

Jamur mempunyai enzim yang dapat menguraikan selulosa. Selulosa mengalami hidratasi, tampak membengkak dan berlapis-lapis. Hifa ifeksi membuat saluran kecil di dalam bengkakan ini dan masuk ke dalam ruang el. Dibawah tempat perforasi itu hifa membesar dan encapai ukuran semula. Jadi penembusan dinding sel terjadi secara kimiawi. Jika hifa infeksi mulai menguraikan dinding luar sel epidermis, keseimbangan dalam sel mulai terganggu. Protoplasma mulai terganggu. Protoplasama mengalami perubahan dalam strukturnya, menjadi lebih kasar dan granuler. Kadang-kadang plasma mengalami koagulasi dan mengendap pada permukaan hifa yang telah masuk, sehingga hifa yang masuk itu terbungkus oleh selaput padat, yang dapat menghalangi difusi sekresi jamur ke dalam sel. Ada kalany lapisan pembungkus ini menjadi lebih kuat karena adanya endapan selulosa dan hemiselulosa, yang disebut lignituber, yang dapat menghentikan pertumbuhan hifa. Sering inti sel bergerak ke daerah hifa, tertarik oleh luka sebgai daerah yang mempunyai aktivitas fisiolologis tertinggi (traumotoxis). Inti menjadi lebih besar, agak pipih dan mempunyai nukleolus yang besar pula.

Jamur dapat menginfeksi semua bagian tanaman, termasuk daun-daun, batang, bunga, akar dan buah. Manifestasi fisik dari penyakit tanaman yang disebabkan oleh jamur, termasuk layu, bintik-bintik pada akar, bintik pada kayu, kanker dan berbagai tipe lapuk, serta bintik pada daun. Pengaruh penyakit yang disebabkan jamur dapat membinasakan seperti yang pernah terjadi tahun 1845 kematian seluruh tanaman kentang sehingga menyebabkan kelaparan yang meluas di Irlandia. Contoh jamur berbahaya penyebab penyakit pada tanaman jagung. Bintik/noda pada jagung adalah suatu jamur parasitik yang menyerang batang dan rambut jagung, menghasilkan spora hitam yang besar (abnormal).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Microsoft Encarta Encyclopedia 2004 copy 1993-2003 Microsoft corporation

Contoh penyakit tanaman yang disebabkan jamur yaitu penyakit Elm Belanda (asal mula ditemukan di Belanda) yaitu penyakit jamur pada pohon-pohon elm yang telah menyerang sepuluh juta pohon diseluruh dunia. Penyakit elm dicirikan oleh penguningan daun secara dan kemungkinan pohon yang diinfeksi dapat mengalami kematian. Penyakit elm disebabkan oleh jamur Ophiostoma ulmi yang dipindahkan dari pohon-pohon berpenyakit ke pohon yang sehat (belum terserang penyakit) oleh kumbang-kumbang kulit kayu

Upaya-upaya untuk melenyapkan penyakit tersebut pernah gagal, tetapi telah disosialisasikan program perlambatan penyebaran penyakit dan penurunan kehilangan pohon dalam jumlah yang cukup besar. Kontrol yang efektif dengan cara mengeliminasi semua kayu elm yang rusak yang sudah mati atau sudah hampir mati (nonfungsional) sebagai tempat kumbang kayu berkembangbiak, pemangkasan cabang yang lemah atau rusak dengan hati-hati, pemindahan langsung pohon-pohon baru yang teinfeksi, dan pemindahan semua kulit kayu. Infeksi fungisida ke dalam pohon-pohon sehat, memberikan proteksi melawan infeksi serta vaksin yang dikembangkan tahun 1998 juga dapat mencegah infeksi. Variasi resisten penyakit dari pohon elm juga sudah dikembangkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Microsoft Encarta Encyclopedia 2004 copy 1993-2003 Microsoft corporation

Contoh lainnya adalah penyakit anggur lapuk menyerupai tepung. Jamur parasitik akar yaitu Hemilea vastatrix menyerang tanaman kopi di Sri Lanka dan negara oriental lainnya termasuk Indonesia. Di Amerika Serikat, tanaman kacang diserang oleh jamur yang berasal dari wilayah Asia. Bagian tanaman yang menghasilkan tanin dihilangkan oleh jamur. Kapang Rhizoctonia solani, fusarium sp, lentinus lepidus, Phytium sp, Botrytis cinerea, Gloesporium gloesporoides, Rigidopurus lignosus dan Slerotium rolfsii menyerang tanaman jagung, kedelei, kentang, tomat, kapas, kubis, pohon buah-buahan, dan tanaman hias.

C. Aktivitas virus dalam menginduksi penyakit pada tanaman

Virus tidak dapat menginfeksi tanpa bantuan, karena virus tidak dapat mengadakan penetrasi dinding se. Tidak seperti bakteri, yang juga tidak dapat mempenetrasi dinding sel, tetapi dapat membiak dalam ruang antar sel, virus hanya masuk ke dalam sel agar dapat mengadakan replikasi.

Infeksi virus pada permukaan daun terutama terjadi pada sel-sel epidermal. Paartikel virus dapat asuk melalui luka kecil yang tidak menyebabkan matinya sel. Bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa trikoma dapat menjadi jalan masuknya virus, tetapi bukan merupakan jalan yang pentin. Demikian pula ektodesmata (benang plasma yang menembus dinding luar epidermis sampai ke kutikula) terukti tidak memegang peranpenting dalam infeksi virus. Virus tertentu dapat menginfeksi melalui luka-luka yang terjadi secara mekanis, sedangkan virus lainnya harus dimasukkan ke dalam sel oleh jasad tertentu yang diebut vektor, seperti serangga, jamur atau nematoda.

Virus tidak dapat membelah dan tidak membentuk alat-alat reproduksi seperti spora  dan sebangsanya, tetapi bertambah banyak dengan mempengaruhi sel inang utuk membentuk banyak zarah virus baru. Oleh karena itu, virus hanya dapat memperbanyak diri dalam sel hidup. Asam nukleat virus yang masuk ke dalam sel iang “membelokkan” metabolisme sel untuk membuat bahan pembentuk virus, yang seharusnya membentuk produk-produk sel yang normal.

Setelah masuk ke dalam sel partikel virus terurai untuk melepaskan asam nukleat, yang oleh aparat inang “diterjemahkan” menjadi protein virus yang baru. Asam nukleat mengadakan replikasi, lalu protein struktural terbentuk, kemudian asam nukleat dan protein tergabung untuk membentuk partikel virus yang baru. Jadi untuk replikasinya, virus sangat tergantung pada inangnya. Dengan demikian hubungan virus dengan inangnya bukan hanya parasitisme obligat, ini disebut juga sebagai parasitisme mutlak (absolut).

Jika tanaman sudah terinfeksi oleh satu strain dari jenis virus tertentu, tumbuhan tadi menjadi kebal terhadap strain lain dari jenis virus yang sama. Fenomena ini disebut proteksi silang atau premunisasi. Virus meluas dari sel yang teinfeki ke sel-sel sekeliling melalui plasmodesma yang merupakanhubungan sitoplasma antarsel. Setelah mencapai floem dalam berkas pengangkutan penyebaran virus dalam badan tanaman menjadi lebih cepat. Virus mempengaruhi sel tumbuhan tidak hanya dalam pembentukan virus baru, tetapi juga dalam pembentukan protein yang aktif secara biologi, anatara lain enzim, hormon, toksin dan sejenisnya, yang banyak berpengaruh terhadap metabolisme sel yang normal.

Pada umunya virus menyebabkan berkurangnya fotosintesis karena berkurangnya klorofil tiap daun, atau berkurangnya efisiensi klorofil, atau berkurangnya luas daun tiap tanaman Respirasi biasnya segera meningkat setelah terjadinya infeksi. Sesudah itu respirasi dapat tetap tinggi atau menurun menjadi bentuk normal, atau bahakan lebih rendah daripada biasanya.

Tipe gejala-gejala infeksi virus termasuk pola-pola mosaik, daun kuning, pembuluh/urat daun terbuka, binik-bintik melingkar, menghalangi pertumbuhan dan mati prematur, malformasi (abnormal bagian tanaman) dan pertumbuhan  raksasa. Dalam beberapa kondisi, gejala-gejala itu bisa dikelabui atau ditutupi, seperti penyakit virus Peach kuning, mosaic tobacco, daun menggulung pada kentang dan ujung lombok merah berbentuk keriting.

Penyakit tanaman berbahaya dapat merugikan perekonomian suatu negara karena hasil panen tidak sesuai  yang diharapkan. Penyakit virus adalah bersifat infeksi dan sebagaian besar dipindahkan oleh serangga. Kontrol serangga ini adalah cara terbaik untuk mengurangi kejadian penyakit pada tanaman. Infeksi virus juga dapat dipindahkan dalam proses pertunasan atau okulasi, oleh kontaminasi tanah dan pada biji serta mikroba parasit pada bunga.

Contoh infeksi virus pada tanaman yaitu virus Calico pada tanaman peach yaitu merupakan salah satu dari sejumlah virus yang menginfeksi tanaman yang dipindahkan oleh seranggga. Karena virus itu sendiri sangat sulit diadakan perlakuan. Maka metode pencegahan penyakit tanaman dengan mengontrol serangga yang membawa penyakit virus sehingga mempersempit jangkauan reaksi inang yang luas. Seperti halnya pada bakteri dan jamur, penyakit tanaman yang disebabkan oleh infeksi virus meningkat dengan cepat pada tahun-tahun terakhir.

Microsoft Encarta Encyclopedia 2004 copy 1993-2003 Microsoft corporation

D. Contoh aktivitas mikroba parasit pada tanaman mangga dan anggrek

Ada beragam mikroba yang parasit pada buah, sayuran dan bunga. Pada makalah ini kami menyajikan contoh aktivitas mikroba parasit pada tanaman mangga dan anggrek.

a.Aktivitas mikroba parasit pada tanaman mangga

1.Jenis penyakit/penyebab: Glocospongarium mangifera

Gejala: Cendawan ini merupakan parasit lemah, tetapi bila keadaan lingkungannya memungkinkan, misalnya ada pelukaan, keadaan lembab dan terbakar sinar matahari, serangan dapat terjadi secara hebat. Cendawan ini muncul di atas permukaan daun sebagai bintik-bintik hitam, konidia bersel satu dan bulat panjang.

Pengendalian:

  1. Untuk mencegah serangan pada pembibitan dilakukan dengan mengatur jarak tanam sehingga sirkulasi udara cukup baik dan nanungan tidak boleh terlalu rapat sehingga sinar matahari dapat menembus.
  2. Penyemprotan dengan fungisida Difolatan 4 F dan Dithane M-5.

2.Jenis penyakit/penyebab: Antraknosa (Colelotrichum gloeosporioides)

Gejala: Cendawan ini menyerang bagian-bagian tanaman yaitu daun muda, daun tua, bunga dan buah. Perkembangan penyakit akan meningkat bila kelembaban tinggi dan musim hujan panjang.

Daur penyakit: C. gloceosporioides adadalah sat jenis (species) yang sangat besar, umum terdapat dimana-mana dan dapat menyerang bermacam-macam tumbuhan.Tetapi samapai sekarang belum apat dikatakan dengan pasi bahawa jamur yang terdapat pada berbaga tumbuhan terdiri atas ras yang sama. Yng pasti C.glocosporoides yang dapat mengifeksi buah mangga bertahan pada ranting-ranting daun sakit  yang terdapat pohon, atau yang tereletak diatas tanah.

Pada cuaca yang lembap dan berkabut jamur pada daun danranting membentuk banyak spora (konidium). Spora dihasilkan pada aservulus seperti lendir berwarna merah jambu. Spora terutama dipencarkan oleh percikan air huja, dan mungkin juga oleh serangga. Infeksi  pada buah-buah hijau dapat terjadi melalui lubanglubang (pori) buah. Pada umunya disini terjadi infeksi laten, jamur masuk ke dalam beberapa sel klit, dan tidak berkembang terus. Jamur baru akan berkembang dan membentuk bercak setelah buah matang dalam pemeraman atau penyimpanan.

Spora adapat terbawa oleh airhujan atau embun yang meleleh melalui tangkai buah, sehingga kelak disekitar bekas tangkai buah lebih banyak terjadi bercak. Air yang meleleh disamping buah membentuk bercak-bercak yang teratur pada suatu jalur. Pad buah-buah matang dapat terjadi infeksi melalui lenti sel (Pathak, 1979 dalam Semangun, 2001:581)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengendalian:

1. Menggunakan Dithane M-45, dosis 1-2 kg/ha dengan volume larutan 400-600 liter/ha

3.Jenis penyakit/penyebab: Botriodiplodia

Gejala: Cendawan ini menyerang pangkal batang dan cabang-cabang besar yag menghadap sinar matahari penuh misalnya karena pemangkasan yang berat. Gejala yang terlihat dari luar yaitu getah pohon yang menggali dari lubang pada batang. Bila semakin parah serangannya maka warna getahnya akan semakin coklat kelam. Pada buah menyebabkan hancurnya jaringan bagian dalam sehingga daging buah lunak. Mula-mula bercak berwarna ungu kemudian coklat tua dan akhirnya hitam.

 

Pengendalian:

1.      Perawatan benih menggunakan air panas atau fungisida sistemik Benomyl. Setiap habis pemangkasan dianjurkan mengapur pangkal batang dengan campuran kapur dan garam dapur. Cendawan ini juga menyebabkan penyakit gudang, maka perlu diatur kondisi gudang yang cukup baik kelembabannya, suhu dan aerasi, sehingga perkembangan cendawan dapat ditekan.

4.Jenis penyakit/penyebab: penyakit busuk coklat (Physalospora perscae)

Gejala: Infeksi dimulai pada saat pohon berbunga, kemudian menyerang batang dan ujung-ujung tangkai. Pada tangkai terdapat bercak-bercak berwarna hitam terang. Pada tangkai buah yang masih muda berwarna coklat kekuning-kuningan kemudian coklat kehitaman. Buah yang terserang jatuh sebelum waktunya. Batang pohon muda yang terserang menjadi membengkak dan terjadi nekrosis.

Pengendalian:

1.      Disemprot dengan campuran fungisida yang mengandung tembaga (Cu) dan belerang (S) atau dapat juga Koperoxychlorida, Koneprax atau Curavit 0,2-0,5%. Penyemprotan dilakukan pada waktu pohon sedang berbunga atau pada saat buah hampir matang.

5.Penyakit embun tepung

Gejala: Cendawan ini menyerang tunas, bunga dan buah yang masih muda. Buah yang terserang pemukaan menjadi busuk karena tertutup tepung berwarna putih. Infeksi pada bunga dan buah muda mengakibatkan perubahan warna yaitu menjadi coklat  akhirnya gugur. Pada serangan berat seluruh permukaan daun dan buah tertutup oleh cendawan sepeti tepung dan terdapat bercak-bercak berwarna ungu dengan bentuk tidak teratur.

Pengendalian:

1. Satu-satnya pengendalian yang efektif dan efisien dengan cara pengembusan dengan fungisida serbuk belerang di waktu pagi hari (daun masih ditutupi embun)

6.Jenis penyakit/penyebab: Penyakit bercak (Cephaleuros sp.)

Gejala: Daun yang terserang nampak bercak-bercak berwarna kekuning-kuningan, berbentuk bulat sampai lonjong dengan tepi tidak rata berlekuk-lekuk atau tidak teratur. Serangan ini menyebabkan kanker pada ranting. Umumnya menyerang tanaman yang tubuh di tempat yang kurang mendapat sinar matahari dan yang keadaannya lemah baik pada persemaian ataupun tanaman yang tua.

Pengendalian:

1. Pengaturan jarak tanam sehingga sinar matahari cukup.

2. Penyemprotan fungisida tembaga (Cu).

(Sumber: http://free.vlsm.org/v12/sponsor)

b. Aktivitas mikroba parasit pada tanaman anggrek

1.Jenis penyakit/penyebab: penyakit busuk hitam (Phytopthora sp.)

Tanaman inang: Penyakit ini terutama dijumpai pada anggrek Cattleya sp., Phalaenopsis sp., Dendrobium sp., Epidendrum sp., dan Oncidium sp.

Gejala serangan: Infeksinya tanpa dengan adanya noda-noda hitam yang menjalar dari bagian tengah tanaman hingga ke daun. Dalam waktu relaif singkat seluruh daun sudah berjatuhan. Cendawan ini menyerang pucuk tanaman dan titik tumbuh. Bagian pangkal pucuk daun terlihat basah dan bila ditarik mudah terlepas. Bila menyerang titik tumbuh, pertumbuhan akan terhenti. Penyebaran penyakit ini sangat cepat bila keadaan lingkungan lembab.

Pada Cattleya penyakit dapat timbul pada daun, umbi semu, akar rimpang dan kuncup bunga. Penyakit ini juga dapat timbul pada persemaian sebagai penyakit bususk rebah. Pada daun terjadi bercak besar, berwarna ungu tua, coklat keunguan atau hitam. Bercak dikelilingi lingkaran semu kekuningan. Dari daun penyakit berkembang ke umbi semu, akar rimpang, bahkan mungkin ke seluruh tanaman. Jika penyakit mula-mula timbul pada umbi semu, maka umbi ini akan menjadi hitam ungu dan semua yang terletak diatasnya akan layu. Seringkali daun menjadi rapuh dengan goyangan sedikit saja daun akan terlepas sedikit di atas umbi semu. Infeksi yang terjadi pada permukaan tanah dapat menyebabkan busuk bagian bawah/akar tanaman.

Pada Vanda, mula-mula pada pangkal daun terjadi bercak hitam kecoklatan tidak teratur, dengan cepat meluas ke seluruh permukaan daun dan pada daun-daun sekitarnya. Pada umumnya penyakit timbul di daerah pucuk tanaman. Pada bagian ini daun-daun berwarna hitam, coklat kebasah-basahan dan mudah sekali gugur. Kadang-kadang penyakit juga timbul pada batang dan daerah perakaran.

Morfologi/epidemiologi:

Cendawan membentuk sporangium, mudah terlepas, bulat telur atau jorong, pangkalnya membulat, mempunyai tangkai pendek dan hialin. Spora Phytopthora dapat dipencarkan oleh angin dan percikan air. Akar rimpang dapat terinfeksi karena patogen yang terbawa oleh pisau yang dipakai untuk memotong (memisahkan tanaman). Penyakit juga berkembang oleh kelembaban yang tinggi, karena air membantu pembentukan, pemencaran dan perkecambahan spora.

2.Jenis penyakit/penyebab: Antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides [penyakit pada stadium sempurna: Glomerella cingulata])

Tanaman inang: Penyakit ini dijumpai pada anggrek jenis Dendrobium sp., Arachnis sp., Ascocendo sp., Phalaeonopsis sp., Vanda sp., Oncidium sp.

Gejala Serangan: Pada daun atau umbi semu mula-mula timbul bercak bulat, mengendap, berwarna kuning atau hijau muda. Akhirnya bercak menjadi coklat dan mempunyai bintik-bintik hitam yang terdiri dari tubuh buah cendawan. Pada umumnya bintik-bintik ini teratur pada lingkaran-lingkaran yang terpusat. Dalam keadaan yang lembab tubuh buah mengeluarkan massa spora (konidium) yang berwarna merah jambu atau jingga. Daun yang terserang akan gugur akhirnya umbi akan gundul.

Pada bunga, penyakit menyebabkan terjadinya bercak-bercak coklat kecil yang dapat membesar dan bersatu sehingga dapat meliputi seluruh bunga.

Cendawan dapat mempertahankan diri dengan hidup secara saproitik pada sisa tanaman sakit. Pada cuaca menguntungkan (lembab) cendawan membentu konidium yang apabila terbentuk dalam massa yang lengkat, konidium dipencarkan oleh percikan air hujan/air siraman, mungkin juga oleh serangga.

Cendawan adalah parasit lemah, yang hanya dapat mengadakan infeksi pada tanaman yang keadaannya lemah, terutama melalui lika-luka, termasuk luka karena terbakar matahari. Terjadinya penyakit juga dibantu oleh pemberian pupuk nitrogen yang terlalu banyak.

Morfologi/Epidemiologi:

A.    gloesporioides berbentuk aservulus pada bagian yang mati (nekrosis) yang berbatas tegas, biasanya berseta, kadang-kadang berseta sangat jarang atau tidak sama sekali. Aservulus berbentuk bulat, memanjang atau tidak teratur, garis tengahnya dapat mencapai 500 mikrometer. Seta mempunyai panjang yang bervariasi, jarang lebih dari 200 mikrometer, dengan lebar 4-8 mikrometer, bersekat 1-4, berwarna coklat, pangkalnya agak membengkak, mengecil ke ujung, pada ujungnya kadang-kadang berbentuk konidium. Konidium berbentuk tabung, ujungnya tumpul, pangkalnya sempit terpancung, hialin tidak bersekat, berinti ,9-24 x 3,6 mikrometer. Konidiofor berbentuk tabung, tidak bersekat, hialin atau coklat pucat.

C. gloesporioides tersebar luas, sebagai parasit lemah pada bermacam-macam tumbuhan inang, bahkan ada yang hanya hidup sebagai saprofirt. Cendawan dapat mempertahankan diri dengan hidup secara saprofitis pada bermacam-macam sisa tanaman sakit. Pada cuaca menguntungkan jamur membentuk konidium. Karena terbentuk dalam massa yang lekat, konidium dipencarkan oleh percikan air, dan mungkin oleh serangga. Pembentukan konidium dibentuk oleh cuaca yang lembab, sedangkan pemencaran konidium dibantu oleh percikan air hujan maupun siraman.

3.Jenis penyakit/penyebab: Penyakit layu (Sklerotium rolfsii [Penyakit tanaman pada stadium sempurna: Corticium rolfsii])

Tanaman inang: Selain menyerang anggrek, penyakit ini diketahui menyerang pada tanaman pertanian lainnya. Pada anggrek terutama menyerang jenis-jenis terestrial, seperti Vanda sp., Arachnis sp., dan sebagainya.

Gejala serangan: Tanaman yang terserang menguning dan layu. Infeksi terjadi pada bagian-bagian yang dekat dengan tanah Bagian ini membusuk dan pada permukaannnya terdapat miselium cendawan berwarna putih, teratur seperti bulu. Miselium ini membentuk sklerotium, yang semula berwarna putih, kelak berkembang menjadi butir-butir berwarna coklat yang mirip dengan biji sawi.

Pada Phalaeonopsis penyakit menyebabkan busuk akar dan pangkal daun. Jaringan menjadi berwarna kuning krem, berair yang segera berubah menjadi coklat lunak karena adanya bakteri dan cendawan tanah.

Sklerotium bentuknya hampir bulat dengan pangkal yang agak datar, mempunyai ulitt luar, kulit dalam dan teras.

Didaeah tropis S. Rolfsii tidak membentuk spora. Cendawan dapat bertahan lama dengan hidup secara saprofitik, dan dalam  bentuk sklerotium yang tahan terhadap keadaan yang kurang baik.

S. rolfsii umumnya terdapat dalam tanah. Cendawan terutama terpencar bersama-sama dengan tanah atau bahan organik pembawanya. Sklerotium dapat terpencar karena terbawa oleh air yang mengalir.

S. rolfii terutama berkembang dalam cuaca yang lembab. Cendawan dapat menginfeksi tanaman anggrek melalui luka ataupun tidak, bila melalui luka infeksi akan berlangsung lebih cepat. Di Indonesia Oncidium sp dan Phalaeonopsis sp sangat rentan terhadap S. Rolfsii, Cattleya sp agak tahan, sedangkan Dendrobium sp sangat tahan.

Morfologi/epidemiologi:

S. rolfsii adalah cendawan yang kosmopolit, dapat menyerang bermacam-macam tumbuhan, terutama yang masih muda. Cendawan itu mempunyai miselium yang terdiri dari benang-benang berwarna putih, tersusun seperti bulu atau kipas. Cendawan tidak membentuk spora. Untuk pemencaran dan mempertahankan diri cendawan membentuk sejumlah sklerotium yang semula berwarna putih kelak menjadi coklat dengan garis tengah kurang lebih 1 mm. Butir-butir ini mudah sekali terlepas dan terangkut oleh air.

Sklerotium mempunyai kulit yang kuat sehingga tahan terhadap suhu tinggi dan kekeringan. Di dalam tanah sklerotium dapat bertahan selama 6-7 tahun. Dalam cuaca yang kering klerotium akan mengeriput, tetapi justru akan berkecambah dengan cepat jika kembali berada dalam lingkungan yang lembab.

4.Jenis penyakit/penyebab: Penyakit layu (Fusarium oxysporum)

Tanaman inang: Penyakit layu Fusarium dapat dijumpai pada anggrek jenis Cattleya sp, Dendrobium sp dan Oncidium sp. Selain itu juga menyerang kubis, caisin, petai, pepaya, krisan, kelapa sawit, lada, ketang pisang dan jahe.

Gejala serangan: Patogen menginfeksi tanaman melalui akar  atau masuk melalui luka pada akar rimpang yang baru  saja dipotong, menyebabkan batang dan daun berkerut. Bagian atas tanah tampak dehidrasi/kekurangan air, menguning, dengan daun-daun yang keriput, umbi semu menjadi kurus, kadang-kadang agak terpilin. Perakaran busuk, pembusukan akar dapat meluas ke atas, sampai pangkal batang.

Jika akar rimpang dipotong akan tampak bahwa epidermis dan hipodermis berwarna ungu, sedang phloem dan xylem berwarna ungu merah muda jambu. Akhirnya seluruh akar rimpang menjadi berwarna ungu.

Epidemiologi:

Patogen dapat betahan secara alami di dalam media tumbuh dan pada akar-akar tanaman sakit. Apabila terdapat tanaman peka melalui akar yang luka dapat segera menimbulkan infeksi. Penyakit ini mudah menular melalui benih, dan alat pertanian yang dipakai.

5.Jenis penyakit/penyebab: Bercak Daun (Cercospora sp)

Tanaman inang: Semua jenis anggrek terserang oleh penyakit ini, terutama yang ditanam di tempat terbuka, seperti Vanda sp., Arachnis sp., Aranda sp., Aeridachnis sp., dan sebagainya.

Gejala Serangan: Penyakit timbul hanya apabila keadaan lingkungan lembab. Mula-mula pada sisi bawah daun yang masih muda timbul bercak kecil berwarna coklat. Bercak-bercak dapat berkembang melebar dan memanjang dan dapat bersatu membentuk bercak yang besar. Pada pusat bercak yang berwarna coklat keputihan, cendawan membentuk kumpulan-kumplan konidiofor dengan konidium, yang bila dilihat dengan kaca pembesar (lup) tampak seperti bintik-bintik hitam kelabu. Pusat bercak akhirnya mengering dan dapat menjadi berlubang. Gejala ini lebih banyak terdapat pada daun-daun tua.

Morfologi/Epidemiologi:

Konidium cendawan ini berbentuk gada panjang berseta 3-12. Konidiofor pendek, bersekat 1-3, cendawan dapat terbawa oleh benih dan bertahan pada sisa-sisa tanaman sakit selama satu musim. Cuaca yang panas dan basah membantu perkembangan penyakit. Penyakit dapat timbul pada tanaman muda meskipun cenderung lebih banyak pada tanaman tua.

6.Jenis penyakit/penyebab: Bercak coklat (Ralstonia cattleyae)

Tanaman inang: Penyakit terutama menyerang Phalaenopsis sp. dan Catleya sp

Gejala Serangan: Penyakit ini terutama merugikan Phalaeonopsis sp bagian tanaman yang terserang yaitu daun dan titik tumbuh. Penyakit sangat cepat menjalar, dan pada daun yang terserang terjadi bercak lunak, kebasah-basahan berwarna kecoklatan atau hitam. Penyakit meluas dengan cepat. Jika penyaki mencapai titik tumbuh, tanaman akan mati. Bagian yang sakit mengeluarkan lendir (eksudat), yang dapat menularkan penyakit ke tanaman lain, melalui penyiraman.

Pada daun Cattleya sp penyakit tampak sebagai bercak-bercak mengendap, hitam dan kebasah-basahan. Pada umumnya penyakit hanya terbatas pada satu atau dua daun dan tidak mematikan tanaman.

Epidemiologi:

Massa bakteri sering muncul dipermukaan jaringan tanaman sakit. Penyakit ini berkembang pada kondisi lingkungan yang basah dan suhu yang tinggi. Penyakit dapat menular melalui alat-alat pertanian, air, media tumbuh dan benih yang terinfeksi.

7.Jenis penyakit/penyebab: Busuk lunak (Erwinia sp)

Tanaman inang: Penyakit ini dapat menyerang semua jenis anggrek bahkan tanaman lain yang lunak jaringannya.

Gejala Serangan: Penyakit ini menyerang tanaman anakan dalam pot. Daun-daun anakan terlihat berair dan warna daun berubah kecoklatan. Pada bagian lunak lainya terjadi pembusukan disertai bau yang tidak enak. Bakteri ini menimbulkan pembusukan pada jaringan yang lunak dan pada jaringan yang bekas digigit serangga.

Morfologi/Epidemiologi:

Sel bakteri berbentuk batang, tidak mempunyai kapsul, dan tidak berspora. Bakteri bergerak dengan menggunakan flagela yang terdapat disekeliling sel bakteri.

Bakteri patogen mudah terbawa oleh serangga air, media tumbuh dan sisa tanaman yang terinfeksi, serta alat-alat pertanian. Suhu optimal utuk perkembangan bakteri adalah 27ºC. Pada kondisi suhu rendah dan kelembaban rendah bakteri terhambat pertumbuhannya.

8.Jenis penyakit/penyebab: Rebah bibit (Pythium ultinum, Phytohphora cactorum dan Rhizoctonia solani)

Tanaman inang: Penyakit ini dijumpai pada tanaman muda dalam pot pada anggrek jenis Cymbidium sp., Dendrobium sp., Oncidium sp dan sebagainya.

Gejala serangan: Pada tanaman muda ditandai dengan gejala damping off, yaitu tanaman mati dan roboh. Bagian pangkal tanaman membusuk sehingga tidak kuat berdiri tegak. Penyakit berkembang ke atas bagian tanaman yang lunak lainnya.

Epidemiologi: Patogen tersebut terpencar melalui air. R. solani bertahan lama di dalam tanah (media tumbuh).

9. Jenis penaykit/penyebab: Bercak daun (Pestalotia sp)

Tanaman inang: Penyakit dijumpai pada anggrek jenis Vanda sp., Arachnis sp., Dendrobium sp., dan Oncidium sp.’

Gejala serangan: Pada daun-daun tua dijumpai bercak berwarna dengan titik-titik hitam di bagian tengahnya. Mula-mula bercak berwarna kuning agak coklat.

Epidemiologi: Patogen memencar dengan spora yang terjadi apabila ada perubahan yang mendadak dari keadaan basah kemudian kering disertai angin.

10.Jenis penyakit/penyebab: Bercak (Botryodiplodia sp)

Tanaman inang: Penyakit ini dijumpai pada anggrek jenis Vanda sp dan Arachnis sp.

Gejala serangan: Pada anggrek Vanda sp penyakit ditandai dengan bercak memanjang berwarna coklat sampai hitam. Gejala terjadi baik di daun maupun batangnya. Bercak tidak terbatas pada bagian-bagian yang tua saja tetapi yang mudapun terserang.

Epidemiologi:

Peyakit memencar dengan sporanya yang berada didalam badan buahnya. Spora memencar bila terjadi perubahan cuaca mendadak dari basah ke kering.

11.Jenis penyakit/penyebab: Bercak bunga (Botrytis cenerea)

Tanaman inang: penyakit ini terutama menyerang bunga pada anggrek jenis Phalaenopsis sp dan cattleya sp

Gejala serangan: Pada mahkota bunga mula-mula terdapat bintik-bintik hitam. Bila penyakit telah berkembang lebih lanjut dengan bintik yang sangat banyak bunga akan busuk dan menghitam.

Epidemiologi: Penyakit ini berkembang bila kelembaban sangat tinggi. Pemencaran penyakit dilakukan dengan sporanya yang sangat mudah diterbangkan angin.

12.Jenis penyakit/penyebab: Karat (Uredo sp)

Tanaman inang: Penyakit karat dijumpai pada Oncidium sp dan jenis lainnya.

Gejala Serangan: Pada permukaan daun terdapat pustul berwarna kuning. Setiap pustul dikelilingi oleh jaringan daun klorotik. Serangan yang hebat menyebabkan daun mengering.

Epidemiologi: Spora patogen mudah melekat pada kaki serangga dan oleh tiupan angin. Kondisi lingkungan yang lembab sangat membantu perkembangan penyakit.

13.Jenis penyakit/penyebab: Virus mosaik Cymbidium (Cymbidium Mosaik Virus=CyMV) Virus mosaik cymbidium dikenal juga dengan nama “Cymbidium black streak virus” atau “Orchid mosaic virus”.

Tanaman inang: Virus ini dijumpai pada 8 genera yaitu Aranthera sp., Clanthe sp., Cattleya sp., Cymbidium sp., Gromatophyllum sp., Phalaenopsis sp., Oncidium sp dan Vanda sp.

Gejala Serangan: Pada Cymbidium sp gejala mosaik akan tampak lebih jelas pada daun-daun muda berupa garis-garis klorotik memanjang searah serat daun. Bunga pada tanaman Cattleya sp yang terinfeksi biasanya memperlihatkan gejala bercak-bercak coklat nekrosis pada petal dan sepalnya. Bunga biasanya berukuran lebih kecil dan mudah rontok dibandingkan bunga tanaman sehat.

Morfologi/epidemiologi: Partikel CyMV berbentuk filmen memanjang berukuran 13 x 75 n. Virus ini menular secara mekanik melalui cairan atau ekstrak bagian tanaman sakit, tetapi tidak menular melalui biji ataupun serangga vektor.

14.Jenis penyakit/penyebab: Virus mosaik Tembakau Strain Orchid (Tobacco Mosaic Virus Orchid=TMV-O) Virus ini dikenal juga dengan nama virus bercak bercincin odontoglossum (odontoglossum ringspot virus=ORSV)

Tanaman inang: Jenis jenis anggrek lain yang dapat terserang virus ini mencakup Dendrobium sp., Epidendrum sp., Vanda sp., Cattleya sp., Oncidium sp., Cymbidium sp dan Phalaeonopsis sp.

Gejala serangan: Pada beberapa jenis anggrek seperti Cattleya sp gejala infeksi virus ini bervariasi, yaitu berupa garis-garis klorotik, bercak-bercak klorotik sampai nekrotik atau bercak-bercak berbentuk cincin. Pada Oncidium sp bercak-bercak nekrotik berwarna hitam tampak nyata pada permukaan bawah daun. Dilapangan persentase tanaman anggrek Oncidium sp terinfeksi virus ini dapat mencapai 100%. Gejala pada bunga misalnya pada anggrek Cattleya sp berupa mosaik pada sepal dan petal. Bagian tepi bunga ini biasanya bergelombang.

Morfologi/Epidemiologi: Partikel virus berbentuk batang berukuran 18 x 300 nm, TMV-O mudah ditularkan secara mekanik melalui ekstrak bagian tanaman sakit, tetapi tidak menular melalui serangga vektor ataupun biji.

(sumber: http://www.deptan.go.id/ditlihorti/makalah/pengamatan opt anggrek)

penyakit tanaman yang diinduksi oleh bakteri | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *