PERNIKAHAN: IKHTIAR MEWUJUDKAN KELUARGA BERKAH

PERNIKAHAN: IKHTIAR MEWUJUDKAN KELUARGA BERKAH

PERNIKAHAN: IKHTIAR MEWUJUDKAN KELUARGA BERKAH

MAKALAH
TUGAS INI DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Pendidikan Agama Islam
Yang dibina oleh Bapak Moch. Wahib Dariyadi, M.Pd

Disusun Oleh :
Dea Ayu Dwicahyaningrum NIM 170331614075
Mardia Hayati Putri NIM 170331614074

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
PRODI S1 PENDIDIKAN KIMIA
Februari 2018

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pernikahan dalam pandangan Islam adalah sesuatu yang luhur dan sakral, bermakna ibadah kepada Allah, mengikuti Sunnah Rasulullah dan dilaksanakan atas dasar keikhlasan, tanggungjawab, dan mengikuti ketentuan-ketentuan hukum yang harus diindahkan. Dalam Undang-Undang RI Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan Bab I pasal 1, perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami-isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Sedangkan tujuan pernikahan adalah sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam surat Ar-Rum ayat 21 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang (mawaddah warahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang berfikir”. Mawaddah warahmah adalah anugerah Allah yang diberikan kepada manusia, ketika manusia melakukan pernikahan.
Pernikahan merupakan sunah nabi Muhammad saw. Sunnah diartikan secara singkat adalah, mencontoh tindak laku nabi Muhammad saw. Perkawinan diisyaratkan supaya manusia mempunyai keturunan dan keluarga yang sah menuju kehidupan bahagia di dunia dan akhirat, di bawah naungan cinta kasih dan ridha Allah SWT, dan hal ini telah diisyaratkan dari sejak dahulu, dan sudah banyak sekali dijelaskan di dalam al-Qur’an:
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui”. (QS. an-Nuur ayat 32).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah telah dipaparkan, berikut ini dipaparkan rumusan masalah dalam makalah.
1. Apa pengertian dari cinta dan pernikahan serta fitrah manusia untuk menikah?
2. Bagaimana kriteria ideal pendamping hidup dalam mencari calon pendamping?
3. Bagaimanakah cara untuk menjaga kesucian diri dengan tidak berpacaran dan tidak berzina?
4. Bagaimanakah upaya untuk meraih keluarga berkah dalam bingkai pernikahan?
5. Apa saja ragam kontroversi pernikahan?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan, maka tujuan dalam makalah ini sebagai berikut.
1. Memahami hakikat cinta dan fitrah manusia untuk menikah
2. Mengetahui bagaimana kriteria ideal pendamping hidup dalam mencari calon pendamping hidup
3. Memaparkan cara untuk menjaga kesucian diri (‘iffah) dengan tidak berpacaran dan tidak berzina
4. Menjelaskan upaya untuk meraih keluarga berkah dalam bingkai pernikahan
5. Memaparkan ragam kontroversi pernikahan

BAB II
PEMBAHASAN

A. Cinta Dan Fitrah Manusia Untuk Menikah

1. Cinta Dan Pernikahan
Menurut para ahli, cinta merupakan kesenangan jiwa, pelipur hati, membersihkan akal, dan menghilangkan rasa gundah gulana. Pengaruhnya membuat elok rupa, membuat manis kata-kata, menumbuhkan prilaku mulia, dan memperhalus perasaan (al-Mukaffi,2004:96). Namun sebaliknya, seseorang yang sedang dimabuk cinta emosinya bergejolak. Dirinya diliputi rasa senang, takut, sedih, cemburu, dan kuatir yang campur aduk tak karuan. Cinta juga bisa membuat pikiran tidak bekerja dengan benar (sarwono, 1983:154)
Menurut ajaran islam, perasan cinta akan membawa kebaikan pada manusia bila disalurkan hanya dalam bingkai pernikahan. Hal ini karena dalam pernikahan, hampir semua bentuk interaksi antara laki-laki dan perempuan menjadi halal, bahkan bernilai pahala bila dilakukan karena Allah.
Diluar pernikahan, semua bentuk hubungan cinta laki-laki dan perempuan adalah terlarang. Sebab orang yang sedang “jatuh” cinta, umum diketahui bahwa mereka seringkali menyalurkan perasaan cintanya dengan cara selalu berada dekat dengan sang pujaan hati, saling memandang, berbicara berdua, bahkan mungkin lebh dari itu. Semua aktivitas ini secara tegas oleh Islam terlarang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri, karena dapat menimbulkan dampak negatif bagi individu, keluarga, maupun masyarakat.
2. Fitrah Manusia Untuk Menikah
Secara bahasa, kata nikah berarti berhimpun. Secara sinonim, Al-Qur’an juga menggunakan kata zawwaja yang bermakna menjadikan pasangan. Secara istilah, menurut UU perkawinan no 1 tahun 1974, pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang peia dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Menikah atau lebih tepatnya berpasangan adalah naluri seluruh makhluk, termasuk manusia. Al-quran beberapa kali mengulang tabiat ini antara lain salah satunya dalam Q.S. Yasin:36 disebutkan
سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ
“Maha suci Allah yang telah menciptakan semua pasangan, baik dari apa yang tumbuh di bumi, dan dari jenis mereka (manusia) maupun dari makhluk-makhluk yang tidak mereka ketahui”
Setiap manusia, laki-laki maupun perempuan, wajar menginginkan memiliki pasangan. Dorongan untuk berpasangan dan memiliki pasangan biasanya sangat kuat saat sesorang mencapai kedewasaannya dan menyalurkannya ke dalam berbagai bentuk hubungan. Agar dorongan berpasangan yang kuat ini dapat tersalurkan dengan benar dan berdampak positif, maka islam mensyariatkan dijalinnya keberpasangan tersebut dalam bingkai pernikahan. Dari bentuk hubungan yang sah inilah kemudian akan muncul rasa tentram atau sakinah pada laki-laki dan perempuan, sebagai mana disebutkan dalam (Q.S Al-Rum:21).
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”[ QS. Ar Rum 30:21]
3. Hikmah Pernikahan
Tujuan pernikahan dalam islam, menurut azzam dan hawwas (2011:39-43), tidaklah sekedar pada pemenuhan nafsu seksual, tetapi memiliki tujuan-tujuan penting dalam hasil yang berkaitan dengan aspek sosial, psikologi dan agama. Di antara tujuan pernikahan yang terpenting adalah:
a. Memelihara keberlangsungan manusia
Pernikahan berfungsi sebagai sarana untuk memelihara keberlangsungan gen manusia, alat reproduksi, dan regenerasi dari masa ke masa. Dengan pernikahan manusia dapat memakmurkan hidup dan melaksanakan tugas sebagai khalifah Allah SWT. Nabi SAW menganjurkan nikah bagi orang yang mengharapkan keturunan.
b. Pernikahan adalah tiang keluarga yang teguh dan kokoh
Jiwa manusia cenderung bersifat mudah bosan dan jauh dari kebenaran jika bertentangan denga karakternya. Jiwa menjadi durhaka dan melawan jika selalu dibebani secara paksa. Akan tetapi, jika jiwa disenangkan dengan kenikmatan dan kelezatan di sebagaian waktu, ia menjadi kuat dan semangat. Kasih sayang dan bersenang-senang dengan istri atau suami akan menghilangkan rasa sedih dan menghibur hati.
c. Mengontrol hawa nafsu
Nikah sebagai saran menyalurkan nafsu manusia dengan cara yang benar, melakukan kebaikan kepada orang lain dan melaksanakan hak istri dan anak-anak dan mendidik mereka. Nikah dapat menjaga dan membentengi diri manusai dan menjauhkannya dari pelanggaran yang diharamkan agama, karena dengan menikah hajat biologis dapat dilakukan oleh pasangan suami istri dengan halal dan mubah.
B. Kriteria Pendamping Hidup Dan Ikhtiar Mencarinya

1. Kriteria Ideal Pendamping Hidup
Rasulullah SAW bersabda :
“barang siapa yang kawin dengan perempuan karena hartanya, maka Allah akan menjadikannya fakir. Barang siap yang kawin dengan perempuan karena ketururnannya, maka Allah akan menghinakannya. Tetapi barang siapa yang kawin dengan tujuan agar lebih dapat menundukkan pandangannya, membentengi nafsungan atau untuk menyambung tali persaudaraan, maka Allah akan memberikan barokahkepadanya dengan perempuan itu dan kepada si perempuan juga diberikan barokah kerenannya”(H.R. Daruquthni).
Remaja atau orang dewasa memilih pendamping hidup didasari pertimbangan dan variabel tertentu. Orang-orang cenderung memilih kekayaan, kedudukan, atau fisik rupawan sebagai prioritas utama dalam menentukan pendamping hidup mereka. Cara pandang matrealistik untuk maeraih kebahagiaan pernikahan yang seperti ini ditentang oleh Islam. Dalam ajaran islam variabel yang pertama dan diutamakan adalah agama yang satu paket dengan akhlak yang baik, karena agama dan akhlak yang baik akan membawa ketenangan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi pasangan dan anak-anaknya. Selain variabel agama, hendaklah seorang muslim juga mempertimbangkan latar belakang keluarga masing-masing. Sebab pernikahan tidak hanya menyatukan dua diri yang berbeda, melainkan juga dua keluarga yang berbeda.

2. Ragam Ikhtiar Mencari Pendamping Hidup
Dalam islam, cara mencari jodoh yang disyariatkan adalah ta’aruf. Secara bahasa,ta’aruf adalah perkenalan. Dalam istilah agama, ta’aruf adalah proses pertemuan atau perkenalan seorang pria dan wanita dalam suasana terhormat ditemani pihak ketiga dengan tujuan pendamping hidup. Dalam proses ta’aruf itu sendiri pihak pria dan wanita dipersilahkan saling menanyakan berbagai hal yang yang ingin diketahui, terutama terkait dengan keinginan masing-masing nanti saat menjalani pernikahan. Agar tidak menimbulkan kekecewaan di lain hari, masing-masing pihak diharuskan berkata jujur. Saat ta’aruf masing-masing pihak diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk melihat wajah calon pedamping dengan seksama untuk menimbulkan kemantapan pada mereka. Apabila kedua belah pihak terdapat dan merasa adannya kecocokan, maka perlu ditentukan tanggal pernikahannya. Dan apabila kedua belah pihak tidak ada kecocokan maka mereka dapat dan diperbolehkan menghentikan perjodohan.
Metode dalam menetukan dan mencari pendamping hidup yang jelas halal dan dianjurkan oleh agam islam adalah ta’aruf. Adapun metode lain seperti pacaran tidak perlu dipilih karena jelas di haramkan oleh agama islam.
C. Menjaga ‘iffah (Kesucian Diri) Dengan Tidak Pacaran Dan Tidak Berzina
1. Katakan “Tidak” pada Pacaran
Menurut KBBI (Edisi Ketiga, 2002), pacaran adalah kekasih atau teman (lawan jenis) yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih. Adapun berpacaran adalah bercintaan atau berkasih-kasihan (dengan sang pacar. “Sedangkan Duvall dan Miller (1985) menyebutkan bahwa pacaran adalah suatu aktivitas yang dilakukan untuk menemukan dan mendapatkan pasangan dari lawan jenis yang disukai, yang dirasa nyaman, dan dapat mereka nikahi (Arizanto 2008.3) atau definisi lain dari pacaran yaitu adalah kegiatan cinta kasih yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan tanpa ikatan pernikahan.
a. Keuntungan Pacaran
1) Belajar mengenal karakter lawan jenis.
2) Mendapatkan perhatian lebih dari orang lain, yakni pacar
3) Mudah menemukan tempat menyampaikan keluhan, unek-unek, atau curhat berbagai permasalahan yang dihadapi kepada pacar.
4) Memiliki tempat berbagi di saat suka maupun duka
5) Tidak kesepian karena ada yang setia menemani kapanpun dan di manapun
6) Ada yang mentraktir makan, minum, pulsa, dan sebagainya.
7) Antar jemput atau ojek gratis.
8) Sarana mencari pendamping hidup agar mengenal dia dan tidak salah pilih.
9) senang dan bahagia karena bisa menyalurkan rasa cinta dan dicintai.
10)Menimbulkan motivasi atau semangat hidup
11)Sarana untuk menyalurkan “hasrat” atau nafsu seksual.
Keuntungan pacaran di atas sesungguhnya tidak sepenuhnya berlaku pada sepasang pacar. Malah keuntungan bagi si pacar sangat mungkin menjadi kerugian bagi pacarnya.. Sebagai contoh, keuntungan nomor enam dan tujuh umumnya merupakan keuntungan pihak perempuan, tapi kerugian di pihak laki-laki. sebagai komplikasinya, pihak laki-laki mungkin mencari nomer sebelas sebagai keuntungannya. Keuntungan nomer sebelas merupakan kerugian karena mengakibatkan dosa besar.
Adapun keuntungan pertama sampai kelima ternyata dapat juga diperoleh dari selain pacar, yaitu sahabat dekat atau keluarga. Selain itu pada nomer delapan keuntungan ini seringkali tidak terjadi justru menutupi sifat atau perilaku buruknya agar tidak ditinggal pacarnya.
b. Kerugian Pacaran
Meski pacaran dilakukan suka sama suka, tapi aktivitas ini juga menimbulkan dampak negatif pada diri pelaku dan orang terdekatnya. Kerugian-kerugian tersebut antara lain:
1) Mengurangi waktu untuk diri sendiri
2) Menghambat kinerja otak hanya memikirkan satu obyek saja (pacar)
3) Mendorong orang untuk berbohong agar tidak merugikan dirinya.
4) Menghabiskan uang, seperti untuk beli pulsa, bensin, jalan-jalan.
5) Menghambat cita-cita, karena waktu dan ‘tecurah untuk pacar
6) Beternak dosa hampir semua aktivitas dalam pacaran menimbulkan dosa.
7) Hati menjadi resah dan tidak tenang karena telah memperbanyak dosa.
8) Perasaan resah dan gelisah karena cemburu dan takut ditinggal pacar.
9) Memunculkan fitnah. Bila berduaan di dalam rumah bisa digrebek warga.
10) Hilangnya keperawanan dan keperjakaan bila tidak mampu mengendalikan nafsu.
11)Menimbulkan aib bagi keluarga bila sampai terjadi hamil di luar nikah.
12) Menunda pernikahan karena keasyikan berpacaran.
13) Menimbulkan efek sakit hati, bahkan bunuh diri apabila “putus ” cinta
14) Membatasi pergaulan dan wawasan karena dilarang pacar.
15) Terjadi kekerasan dalam pacaran (PPK), baik fisik maupun psikis.
16) Menyebabkan konflik dengan orang tua bila hubungan itu tidak disetujui.
17) Mengganggu kuliah atau studi, tidak selesai tepat waktu, bahkan drop out.
Beragam kerugian pacaran di atas tidak selalu terjadi pada setiap pelaku pacaran, tergantung pada gaya pacaran mereka. Meski begitu, jumlah kerugian hampir pasti dialami oleh para pelaku pacaran, yakni: pengeluaran bertambah, beternak dosa, sakit karena cemburu, dan mengurangi waktu bekarya.
Ditinjau dari sudut pandang ajaran Islam, aktivitas pacaran pra nikah dengan beragam gayanya adalah haram alias tidak bisa dibenarkan. Apapun bentuk gaya pacarannya, bila dilakukan sebelum menikah hukumnya tetap terlarang. Kecuali bila pacaran pra nikah itu tidak melanggar aturan agama terkait hubungan laki-laki dengan perempuan non mahram. Aturan tersebut antara lain:
1. Larangan mendekat zina (QS Al Isra ‘: 32)
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

”Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

2. Larangan berduaan di tempat sunyi
3. Larangan melihat lawan jenis tanpa maksud yang dibolehkan agama
4. Larangan menyentuh, apalagi memegang, lawan jenis
“Ditikam seseorang dari kalian dikepalanya dengan jarum dari besi itu lebih baik dari pada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya” (HR. A Thabrani).

5. Larangan membayangkan lawan jenis (HR. Muslim)
“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan Zna kedua telinga dengan mendengar, zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu, kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian”. (HR. Muslim)
Permasalahannya adalah adakah hubungan pacaran tanpa berpandangan, berpegangan, berduaan, atau membayangkan pacar. Bila ada gaya hubungan cinta kasih laki-laki dan perempuan yang memenuhi kriteria ini, maka layak disebut pacaran Islami. Selain itu sebenarnya ada jenis hubungan cinta kasih antara laki-laki dan perempuan yang bukan hanya diperbolehkan oleh ajaran Islam, tapi malah dianjurkan dan mendatangkan pahala bagi pelakunya, yakni hubungan laki-laki dan perempuan setelah terjadinya akad nikah. Jenis hubungan ini menghasilkan pahala karena tidak ada aturan agama yang dilanggar. Bahkan dapat mendatangkan kesenangan bagi kedua belah pihak. Dalam sebuah hadis disebutkan:

Rasulullah SAW bersabda: Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah!Mendengar sabda Rasulullah para sahabat keheranan dan bertanya: Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala?” Nabi SAW menjawab Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa? Jawab para shahabat:”Ya, benar. Beliau

Bersabda lagi: “Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya (ditempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala!” (Hadits Shahih Historis Must Ahmad dan Nasa).
Lingkungan pergaulan zaman sekarang yang cenderung bebas merupakan daya tarik tersendiri bagi remaja muslim. Hal ini merupakan tantangan yang tidak mudah bagi remaja muslim. Namun mempertimbangkan betapa pacaran terlarang dalam islam dan ternyata syarat dengan kerugian dan amat minim keuntungan, maka sangat layak setiap remaja muslim berani berkata tidak pada pacaran.
2. Pacaran dan Perilaku seksual Remaja
Dampak pacaran yang paling mengkhawatirkan adalah seks dan pergaulan bebas. Perkembangan zaman yang menyebabkan informasi tentang seks mudah diakses remaja, kontrol yang lemah dari orang tua menyebabkan remaja zaman sekarang rentan terpengaruh dan mencoba hal-hal berbau seks. Salah satunya adalah gaya pacaran remaja zaman sekarang yang mengarah pada hura-hura dan pemuasan kebutuhan seks
Dampak perilaku pacaran semacam ini sangat merugikan individu dan masyarakat. Dalam konteks individu, pacaran bernuansa seks ini menyebabkan keperawanan dan keperjakaan penyakit kelamin, kanker leher rahim, hamil di luar nikah, aborsi pernikahan usia dini, tersebarnya video porno pelaku pacaran , dan lain sebagainya. Sedangkan dalam konteks masyarakat, pacaran jenis ini berdampak pada munculnya kasus pembuangan atau pembunuhan bayi, membuat malu keluarga, anak lahir tanpa pernikahan, rusaknya tatanan masyarakat, menipisnya budaya malu, dan sebagainya.
Islam sebagai agama yang diturunkan Allah untuk menyelamatkan manusia, sangat menentang gaya pacaran bernuansa seks. Dalam islam, hubungan badan di luar bingkai pernikahan disebut dengan zina, dan termasuk kategori perbuatan dosa besar. Perbuatan ini oleh Allah disebut tindakan yang keji dan cara yang paling buruk (Q.S 17:32)
Pelaku zina dibagi menjadi dua: muhsan dan ghair muhson, zina muhsan yakni pelakunya sudah menikah atau pernah menikah diancam dengan hukuman rajam sampai mati, adapun untuk zina ghair muhsan yakni zina yang dilakukan orang yang belum menikah,hukumannya adalah dicambuk sebanyak 100 kali dan diasingkan selama satu tahun. Terkait betapa buruknya perilaku zina ini, Rasulullah SAW dalam sebuah kesempatan menyatakan.
“ wahai kaum Muslimin! Jauhilah perbuatan zina karena padanya ada 6 macam bahaya, tiga di dunia dan tiga di akhirat. Adapun bahaya yang akan menimpanya didunia ialah: lenyapnya cahaya dari mukanya, memendekkan umur, mengekalkan kemiskinan. Sedangkan bahaya yang bakal menimpa akhirat kelak ialah: kemurkaan Allah Ta’ala, hisab (perhitungan) yang buruk, dan siksaan di neraka” (HR.Baihaqi)
3. Manajemen Hati Agar Tidak Berpacaran
Sesuai dengan definisi pacaran sebelumnya, dapat diketahui pacaran oleh seseorang atas dasar cinta. Orang yang sedang jatuh cinta kasih ingin menyalurkan gelora rasa cinta itu kepada orang yang dia cintai antara lain dengan cara ngobrol berdua, berpegangan, berdekatan, berpelukan. Pertanyaannya adalah mungkinkah para remaja muslim yang sedang dilanda gelora cinta yang sangat besar tidak menyalurkan perasaan dalam bentuk pacaran. Jawabannya sangat mungkin. Salah satu cara yang bisa dilakukan agar tidak berpacaran.
Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan.
a. Menyadari pacaran hukumnya haram dan mendatangkan dosa
b. Menyadari beragam dampak negatif pacaran yang terjadi di sekitar kita
c. Meyakini bahwa jodoh kita sudah ada, ditentukan oleh Allah Yang Maha Tahu, sehingga tidak perlu merasa galau bila tidak punya pacar
d. Meyakini bahwa dengan menjalankan perintah Allah untuk tidak pacaran, Allah kelak akan memberikan jodoh yang baik untuk kita. Muslim dan muslimah yang baik hanya pantas untuk muslim dan muslimah yang baik pula.
e. Diniati untuk puasa pacaran. Dengan menunda pacaran sampai waktunya kita menikah, maka saat kita melakukannya nanti dengan pasangan kita akan terasa luar biasa
f. Fokuskan segenap pikiran dan energi pada studi atau pekerjaan. Bila masih memiliki energi lebih dan waktu luang, manfaatkan dengan beberapa aktifitas positif.
g. Fokuskan usaha dan tenaga untuk meraih cita-cita.
h. Kuatkan tekad untuk membahagiakan orang tua terlebih dahulu sebelum membahagiakan orang lain
i. Agar tidak kesepian, bertemanlah dengan banyak orang baik. Upayakan untuk memiliki sahabat dekat sebagai teman berbagi cerita dan rasa suka dan duka.

D. Meraih Keluarga Berkah Dalam Bingkai Pernikahan
Dalam bahasa Arab, barokah atau berkah bermakna tetapnya sesuatu, dan bisa juga bermakna bertambah atau berkembangnya sesuatu. Mirip dengan makna ini, dalam Al-Quran dan hadits, berkah adalah langgengnya kebaikan, kadang pula bermakna bertambahnya kebaikan dan bahkan bisa bermakna kedua-duanya (Tuasikal, 2010). Sebuah kenikmatan dipandang berkah bila meningkatkan kebaikan orang yang memiliki nikmat tersebut. Karena berkah artinya bertambahnya kebaikan, maka berkah tidak identik dengan banyak atau melimpah, sesuatu yang berkah bisa banyak melimpah bisa juga tidak, yang penting kenikmatan itu membuat seseorang semakin dekat dengan Allah SWT (Hasyim, 2012).
1. Ciri Keluarga Berkah
Berdasarkan makna berkah di atas, dalam konteks perkawinan, keluarga berkah adalah keluarga yang baik, yang membawa kebaikan pada diri mereka dan orang lain. Merujuk pada Al-Qur’an surat al-Rum;31, keluarga berkah adalah keluarga yang sakinah (tenang, tentram), mawaddah (penuh cinta), dan rahmah (diliputi kasih). Intinya adalah bahwa keluarga berkah membuat semua anggotanya merasa nyaman, tenang, dan bahagia.
2. Upaya Meraih Keluarga Berkah
Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan untuk mewujudkan keluarga yang baik dan mendatangkan kebaikan. Hal-hal itu adalah:
a. Sebelum Menikah
1) Menata niat menikah, yaitu untuk meraih ridho Allah
2) Tidak berpacaran. Mencari calon pedamping hidup melalui cara yang diperbolehkan ajaran islam, misalnya ta’aruf
3) Memilih calon pendamping hidup sesuai dengan pedoman islam sebagaimana telah diajarkan Rasullah SAW.
4) Menyiapkan diri secara fisik dan psikis, termasuk ilmu berumah tangga
5) Bermusyawarah dengan orang tua agar memperoleh restu dan dukungan.
b. Saat Akad Nikah
1) Menjaga agar niat tetap lurus, yakni menikah untuk meraih ridho Allah.
2) Minta didoakan orang tua dan orang-orang sholeh. Doa orang tua untuk anaknya dan doa orang-orang sholeh umumnya dikabulkan Allah SWT.
3) Memenuhi syarat dan rukun pernikahan agar sah menurut agama.
c. Saat Menjalani Kehidupan Rumah Tangga
1) Mempertahankan motivasi menjalani pernikahan untuk beribadah
2) Menjadikan ridho Allah sebagai pedoman dalam berumah tangga.
3) Nafkah yang halal, dan diupayakan diperoleh di negarannya sendiri
4) Bersikap toleransi pada pasangan terkait urusan yang tidak melanggar agama.
5) Membiasakan bersikap sabar dan syukur.

E. Ragam Pernikahan Kontroversial
1. Poligami: Menikahi banyak Istri
Menurut Ash-shobuni (2008: 309-312), poligami adalah suatu tuntunan hidup karena sewaktu islam datang dijumpai kebiasaan masyarakat menikah tanpa dan berkemanusiaan, lalu diatur dan dijadikannya sebagai obat. Saat itu banyak laki-laki beristrikan 10 orang atau lebih dalam dalam hadis Ghailan yang saat masuk Islam punya 10 istri. Islam berbicara dengan orang-orang laki-laki yang ada batas yang tidak boleh dilalui, yaitu empat orang dengan ikatan dan syaratnya adil terhadap istri. dalam konteks ini adalah dalam hal nafkah fisik. Bila tidak bisa adil maka seseorang hanya diperbolehkan menikah dengan seorang saja. Negara Jerman yang penduduknya beragama Nasrani sekarang memilih jalan yang ditempuh Islam, kendati agamanya sendiri mengharamkannya, yaitu poligami. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk melindungi perempuan Jerman dari perbuatan lacur dengan segala akibatnya, dan bahaya banyaknya anak pungut.
Perlu digaris bawahi sebagai Al-Qur’an (QS 4: 3) tidak membuat peraturan tentang poligami, karena poligami telah dikenal dan dilaksanakan oleh penganut berbagai agama dan adat istiadat masyarakat sebelum turunnya ayat ini. Ayat ini tidak mewajibkan poligami atau menganjurkannya, ia hanya berbicara tentang bolehnya poligami dan itupun merupakan pintu kecil yang bisa dilalui oleh yang amat dibutuhkan dan dengan syarat yang tidak ringan (Shihab 2000: 324)
2. Nikah Mut’ah
Nikah Mut’ah adalah pernikahan untuk sehari, minggu atau bulan Dinamakan Mut’ah karena orang laki-laki memanfaatkan dan menikmati perkawinan dan kesenangan-tempo tempo yang telah ditentukan waktunya. Imam-imam mazhab, menurut Al Jamal (1999: 263-264), kesepakatan nikah mut’ah adalah haram karena beberapa dalil berikut.
a. Perkawinan ini tidak mempunyai hukum sebagaimana yang tercantum dalam al-Qur’an tentang perkawinan, talak, iddah dan Warisan
b. Rasulullah SAW bersabda:
“Hai sekalian manusia, pemah kuizinkan kalian melakukan kawin mut’ah Ketahuilah, sesungguhnya Allah telah mengharamkan sampai hari Kiamat “
Dan dari Ali RA Rasulullah SAW melarang nikah mut’ah pada waktu perang Khaibar dan melarang makan daging keledai piraan
c. Umar RA mengharamkan nikah mut’ah pada masa beliau menjadi khalifah dan dibenarkan oleh para sahabat RA. mereka tidak mungkin membenarkan kesalahan .
d. Al-Khattab menyatakan keharaman mut’ah berdasarkan ijma (kesepakatan ulama), kecuali dari sebagian golongan Syiah
e. karena mut’ah dilakukan untuk melampiaskan syahwat dan tidak untuk menghasilkan keturunan atau anak yang merupakan tujuan dasar dalam perkawinan, maka kawin mut’ah menyerupai zina dari segi tujuan bersenang-senang saja.
3. Pernikahan Beda Agama
Wanita Muslim tidak halal kawin dengan laki-laki bukan Muslim, baik ia seorang musyrik, Hindu, ahli (Nasrani beragama lainnya Karena orang yang memiliki hak kepemimpinan untuk istri dan istri wajib taat kepadanya, maka tidak boleh orang kafir atau musyrik menjadi pemimpin dan wanita muslimah (Al-Jamal 1999: 265). laki menyatakan haramnya seorang laki “Dan menikahi wanita non-muslim berdasarkan Firman Allah SWT janganlah kamu berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir itu. menunjukkan diharamkannya menikah dengan perempuan kafir / musyrik. Ayat tersebut sama dengan ayat: Janganlah kamu menikah dengan wanita-perempuan musyrik, kecuali mereka telah beriman (QS. al-Baqarah: 221).

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
cinta merupakan kesenangan jiwa, pelipur hati, membersihkan akal, dan menghilangkan rasa gundah gulana. Pengaruhnya membuat elok rupa, membuat manis kata-kata, menumbuhkan prilaku mulia, dan memperhalus perasaan. perasan cinta akan membawa kebaikan pada manusia bila disalurkan hanya dalam bingkai pernikahan. Tujuan pernikahan dalam islam, menurut azzam dan hawwas (2011:39-43), tidaklah sekedar pada pemenuhan nafsu seksual, tetapi memiliki tujuan-tujuan penting dalam hasil yang berkaitan dengan aspek sosial, psikologi dan agama.
Dalam menentukan kriteria pendamping hidup, di ajaran islam variabel yang pertama dan diutamakan adalah agama yang satu paket dengan akhlak yang baik, karena agama dan akhlak yang baik akan membawa ketenangan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi pasangan dan anak-anaknya. Metode dalam menetukan dan mencari pendamping hidup yang jelas halal dan dianjurkan oleh agam islam adalah ta’aruf. Adapun metode lain seperti pacaran tidak perlu dipilih karena jelas di haramkan oleh agama islam.
Menurut KBBI (Edisi Ketiga, 2002), pacaran adalah kekasih atau teman (lawan jenis) yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih. Meski pacaran dilakukan suka sama suka, tapi aktivitas ini juga menimbulkan dampak negatif pada diri pelaku dan orang terdekatnya. Jumlah kerugian yang hampir pasti dialami oleh para pelaku pacaran, yakni: pengeluaran bertambah, beternak dosa, sakit karena cemburu, dan mengurangi waktu berkarya.
Dalam bahasa Arab, barokah atau berkah bermakna tetapnya sesuatu, dan bisa juga bermakna bertambah atau berkembangnya sesuatu. Mirip dengan makna ini, dalam Al-Quran dan hadits, berkah adalah langgengnya kebaikan, kadang pula bermakna bertambahnya kebaikan dan bahkan bisa bermakna kedua-duanya (Tuasikal, 2010). dalam konteks perkawinan, keluarga berkah adalah keluarga yang baik, yang membawa kebaikan pada diri mereka dan orang lain. Merujuk pada Al-Qur’an surat al-Rum;31, keluarga berkah adalah keluarga yang sakinah (tenang, tentram), mawaddah (penuh cinta), dan rahmah (diliputi kasih). Intinya adalah bahwa keluarga berkah membuat semua anggotanya merasa nyaman, tenang, dan bahagia. Namun, ada pula ragam pernikahan yang kontroversial, seperti poligami, nikah mut’ah, atau pernikahan beda agama.

Daftar Rujukan
Al-Jamal, Ibrahim Muhammad.1999. Fiqih Muslimah: Ibadat Mu’alat. Jakarta: Pustaka Amani.
Ash-Shabuni, Muhammad Ali.2008. Terjemahan Tafsir Ayat Ahkam Ash-Shabuni Penerjemah: Mu’ammal Hamidy dan Imron A.M. Surabaya: PT Bina Ilmu.
Al-Mukaffi, Abdurrahman.2004. pacaran dalam Kacamata Islam. Jakarta: Media Da’wah.
Azzam, Abdul Aziz Muhammad dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas.2011.Fiqh Munakahat: Khitbah, Nikah, dan Talak. Jakarta: Amzah.
Sarwono, Sarlito Wirawan.1983. Problem Anda: Masalah Remaja dan Kegiatan Belajar. Jakarta: CV. Rajawali.

LAMPIRAN
Pertanyaan:
• Pertanyaan dari Widya Rahayu
1. Pacaran itu hal biasa yang terjadi di jaman sekarang, bagaimana sikap kita terhadap teman-teman kita yang berpacaran? Apa kita harus memberitahu, tapi dia marah. Atau kita apatis, tapi kita berdosa?
2. Bagaimana menyikapi pasangan yang sebelum menikah bersifat baik, tetapi setelah menikah menjadi buruk?
• Pertanyaan dari Astri Izzatul Jannah
1. Bagaimana jika orang yang berpacaran itu sudah tahu kalau pacaran itu dosa, tapi tetap melakukannya?
2. Jodoh itu bukan dinanti, tapi dicari dengan cara yang halal. Apakah wanita boleh mengejar cinta?
3. Adil dalam poligami itu seperti apa? Apakah menurut presenter poligami itu adil?
• Pertanyaan dari Nur Indah
1. Dalam poligami, apakah suami harus meminta persetujuan istri pertama, atau boleh tidak?
• Pertanyaan dari Elok Amalia
1. Bagaimana hukumnya pacaran tapi tidak melakukan hal apa-apa?
2. Bagaimana jika seseorang hijrah, tapi tujuannya untuk mencari jodoh?

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *