Added by on 21/01/2019

REVIEW BUKU “THE END OF SCIENCE” SENJAKALA ILMU PENGETAHUAN

Oleh: Betric Feriandika

Review buku “The End of Science”, Senjakala ilmu Pengetahuan Vs. Sinergitas Ilmu Agama dan Ilmu Pengetahuan”

John Horgan adalah seorang penulis dan wartawan senior terkemuka dari New York. Ia  telah mewawancarai para pakar ilmu pengetahuan terkemuka di berbagai bidang diantaranya Stephen Hawking, Clifford Geertz, Karl Popper, Noam Chomsky, Franciz Fukuyama dan banyak lagi ilmuwan lainnya . Hasil wawancaranya yang sangat kritis tersebut telah dituangkan dalam buku yang berjudul The End of Science – Senjakala Ilmu Pengetahuan. Horgan memilih istilah “senjakala” sebagai indikator telah berakhirnya ilmu pengetahuan. Berbekal dari interview dan investigasi dengan para pakar ilmu pengetahuan tersebut, maka ia menyimpulkan ada 8 (delapan) bidang pengetahuan yang dibahas oleh Horgan sedang mengalami senjakala. Namun kami hanya membidik salah satu bidang yaitu ilmu sosial. Bagaimana “senjakala” ilmu social versi Horgan? Yang nantinya kami kami akan hubungkan dengan

Senjakala ilmu social yang telah dikupas Horgan di halama 191 – 213, menampilkan sintesa tiga tokoh ilmuwan sosial utama yaitu Edward Wilson, Noam Chomsky dan Clifford Geertz.

Yang pertama adalah Edward Wilson. Ia mensurvey spesies semut Pheidole (Genus paling luas dalam kerajaan hewan) yang terdiri lebih dari 2000 spesies semut. Wilson sangat terkagum-kagum dengan semesta ketika melihat makhluk-mahkluk kecil tersebut. Semut menjadi inspirasi besar terhadap biologi, yang mana Pheidole menjadi pilot project pemberdayaan keanekaragaman hayati. Wilson meyakini jika nanti akan ada teori sosial yang dapat mendeskripsikan seluruh fenomena kehidupan manusia. Wilson menyebutnya sebagai disiplin ilmu sosiobiologi. Wilson sangat mendukung teori Darwin dalam proses perkembangan Evolusi Sosiologi. Ia berprinsip bahwa seluruh perilaku sosial dan budaya manusia ditentukan oleh determinan sistem gen. Ia mengobservasi adanya sistem kemasyarakatan semut yang digerakkan oleh gen dan instink mereka. Begitu pula dengan manusia, metabolisme dalam tubuh manusia mempengaruhi kehidupannya. Di sini sangat jelas pemikiran Wilson, bahwa manusia dianggap sejajar dengan hewan. Wilson juga menulis buku filsafat yang mengemukakan ajaran-ajaran agama harus teruji secara empiris dan tertolak jika ajaran itu menyalahi kebenaran ilmiah.

Yang kedua Noam Chomsky. Sebenarnya Chomsky adalah seorang ahli bahasa (linguistik) terkemuka. Karya-karyanya yang bernuansa kritis atas hegemoni tanda dan makna sangat terkenal di kancah internasional. Namun 20 tahun terakhir hidupnya banyak menghabiskan waktu untuk berkecimpung di dunia politik, jauh dari otak-atik bahasa. Horgan pun lebih banyak menanyakan berahlinya minat Chomsky dari dunia bahasa ke dunia politik. Sehingga Horgan menjulukinya seorang pembangkang. Chomsky berbeda pandangan dengan Wilson tentang tingkah laku manusia. Chomsky berpendapat seleksi alam mungkin memasukkan peran dalam evolusi bahasa dan atribut lain manusia. Evolusi hanyalah keterbatasan pemahaman terhadap alam, manusia atau bukan manusia. Evolusi bukan membentuk otak menjadi mesin yang mempelajari tujuan-tujuan umum dan menyelesaikan masalah. Sedangkan semua hewan berkemampuan kognitif yang terbentuk oleh sejarah evolusi mereka. Jika manusia itu hewan, maka manusia akan mengalami hambatan-hambatan biologis.

Yang ketiga yaitu Clifford Geertz. Horgan menilai sosok Geertz sebagai seorang yang skeptik, yang tidak percaya akan kebenaran ilmu pengetahuan bisa bertahan lama. Geertz juga menyanggah Wilson, jika ilmu sosial itu mustahil akan menciptakan sebuah landasan universal seperti fisika dan biologi. Bahkan Geertz menganggap lucu prediksi Wilson bahwa ilmu-ilmu sosial pada akhirnya akan berubah menjadi sama telitinya dengan fisika, yakni dengan mendasari teori evolusi, genetika dan neurosains. Selain itu Geertz merupakan praktisi sophisticates yang melakukan sesuatu lebih mendekati seni dan kritik sastra dari pada ilmu pengetahuan konvensional. Geertz menghubungkan antropologi dengan kritik sastra dan kesustraan. Geertz menyebutkan seorang antropolog tidak bisa melukiskan sebuah budaya hanya dengan merekam fakta-faktanya. Ia harus menafsirkan fenomena yang mencoba menebak apa yang mereka maksudkan.

Horgan menilai ketiga ilmuwan social baik Wilson, Chomsky maupun Geertz adalah tokoh-tokoh yang berupaya dengan segala kecongkakan telah membawa ilmu pengetahuan social pada senjakala tanpa mereka sadari. Sehingga Horgan berpesan bahwa ilmuwan yang terlalu bangga berlebihan merupakan penyakit yang menyebabkan ilmu tidak lagi memiliki kemampuan menghadapi situasi anomali.

Dari review buku Horgan tentang senjakala ilmu pengetahuan khusus bidang ilmu sosial di atas, tampak kurangnya sinergitas ilmu pengetahuan dengan agama dalam membangun peradaban manusia. Berakhirnya ilmu pengetahuan bukan disebabkan dunia tidak mampu melahirkan sosok tokoh-tokoh sekelas Wilson, Chomsky atau Geertz. Ia berakhir karena kecongkakan ilmuwan yang terlalu yakin jika tidak akan ada lagi temuan-temuan atau terobosan baru di masa depan. Namun keberakhiran ini karena kurangnya sinergitas atau keterkaitan antara ilmu pengetahuan dengan ilmu agama. Pernyataan Wilson terkait ajaran-ajaran agama yang harus teruji secara empiris dan tertolak jika ajaran agama itu menyalahi kebenaran ilmiah, maka pendapat ini berbalik 360o. Justru apa yang telah diajarkan oleh ilmu agama yang bersumber Naqli (Al-Qur’an dan hadits), kini telah banyak menyingkap ilmu-ilmu pengetahuan baru dan  terbukti kebenarannya.

Dan problema “senjakala”, berakhirnya ilmu pengetahuan merupakan berakhirnya umat manusia dan alam semesta di Hari Kiamat. Yang itu berarti keniscayaan.

Category:

Artikel, Artikel Ilmiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*