SISTEM EKONOMI DAN ETOS KERJA DALAM ISLAM

SISTEM EKONOMI DAN ETOS KERJA DALAM ISLAM

MAKALAH
SISTEM EKONOMI DAN ETOS KERJA DALAM ISLAM
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Pendidikan Agama Islam
Yang diampu oleh Bapak Wahib M.Pd

 

Disusun Oleh Kelompok 4 :
1. Asfiyanti Latifah (170322613046)
2. Siti Nur Asiyah (170322613021)

Universitas Negeri Malang
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Jurusan Fisika
April 2018

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Manusia adalah mahluk sosial, oleh karenanya manusia tidak dapat hidup sendiri, manusia membutuhkan manusia lain sebagai penerus hidup agar keselarasan hidup ini terjaga, apalagi sebagai seorang muslim, yang seharusnya mempunyai rasa sosial tinggi, karena dalam Al Quran maupun hadits sosial kepada manusia sangat dikedepankan. Sebagai seorang manusia yang ingin mendapat ridha dari Tuhannya harus berusaha melakukan perbuatan-perbuatan yang diridlai oleh Tuhannya. Salah satunya adalah mencintai sesama muslim. Oleh karena itu sesama muslim adalah saudara. Sifat persaudaraan kaum mu’min yaitu mereka yang saling menyayangi, mencintai, saling tolong-menolong dan menumbuhkan sikap peduli sosial.
Namun, jika sesama muslim tidak saling peduli terhadap sesama dengan kata lain egois, maka orang tersebut tidak memahami bagaimana arti persaudaraan. Dan sikap seperti itu merupakan sikap orang kufur dan tidak disukai Allah SWT. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk menumbuhkan sikap peduli sosial dan tolong-menolong terhadap sesama dalam kehidupan sehari-hari. Agama Islam pula yang berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai tuntunan dan pegangan bagi kaum muslimin mempunyai fungsi tidak hanya mengatur dalam segi ibadah saja melainkan juga mengatur umat dalam memberikan tuntutan dalam masalah yang berkenaan dengan kerja. Rasulullah SAW bersabda: “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok”. Dalam ungkapan lain dikatakan juga,“Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah, Memikul kayu lebih mulia dari pada mengemis, Mukmin yang kuat lebih baik dari pada mukslim yang lemah, Allah menyukai mukmin yang kuat bekerja”. Nyatanya kita kebanyakan bersikap dan bertingkah laku justru berlawanan dengan ungkapan-ungkapan tadi.
Padahal dalam situasi globalisasi saat ini, kita dituntut untuk menunjukkan etos kerja yang tidak hanya rajin, gigih, setia, akan tetapi senantiasa menyeimbangkan dengan nilai-nilai Islami yang tentunya tidak boleh melampaui rel-rel yang telah ditetapkan al-Qur’an dan as-Sunnah.

1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana Konsep Sistem Ekonomi Islam?
1.2.2 Bagaimana respon islam terhadap transaksi ekonomi modern?
1.2.3 Bagaimana etos kerja dan kemandirian hidup dalam islam?

1.3 Tujuan
1.3.1 Dapat memperoleh deskripsi tentang sistem ekonomi islam.
1.3.2 Dapat memperoleh deskripsi tentang respon islam terhadap transaksi ekonomi modern.
1.3.3 Dapat memperoleh deskripsi tentang etos kerja dan kemandirian hidup dalam islam.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sistem Ekonomi Islam
2.1.1 Pengertian Sistem Ekonomi Islam
Ekonomi islam adalah ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah ekonomi islam adalah ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah ekonomi rakyat yang diilhami oleh nilai-nilai Islam.(Manan, 1993: 19). Sementara itu, Halide berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ekonomi islam ialah kumpulan dasar-dasar umum ekonomi yang disimpulkan dari al-Qur’an dan sunnah yang ada hubungannya dengan urusan ekonomi(Ali, 1988: 3).
Sebagaian pakar ekonomi Islam mrngistilahkan dasar-dasar itu dengan istilah “Mazhab Ekonomi Islam.” Sementara pakar ekonomi yang lain mengistilahkannya dengan “bangunan perekonomian yang didirikan siatas landasab dasar-dasar yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan masa” (Ahmadi, 1980:14).
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan sistem ekonomi islam adalah sekumpulan dasar-dasar umum ekonomi yang disimpulkan dari al-Qur’an dan sunnah, dan merupakan bangunan perekonomian yang didirikan siatas landasan dasar-dasar tersebut sesuai dengan kondisi lingkungan dan masa tertentu.
Menurut Halide, pendektan Islam dalam masalah ekonomi berbeda dengan pendekatan kebijakan ekonomi yang berasal dari Barat, karena kebijakan ekonomi Barat berdasarkan perhitungan materialistik dan sedikit sekali memasukkan pertimvangan moral agama. Pendekatan Islam dalam ekonomi, antara lain:
1. Konsumsi manusia dibatasi sampai pada tingkat yang perlu dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.
2. Alat pemuas dan kebutuhan manusia harus seimbang.
3. Dalam pengaturan distribusi dan sirkulasi barang dan jasa, nilai-nilai moral harus ditegakkan
4. Pemerataan pendapatan dilakukan dengan mengingat bahwa sumber kekayaan seseorang yang diperoleh berasal dari usaha yang halal
5. Zakat sebagai sarana distribusi pendapatan dan peningkatan taraf hidup golongan miskin merupakan alat yang ampuh (Ali, 1986: 5).

2.1.2 Nilai Dasar dan Instrumental Ekonomi Islam
Nilai-nilai dasar ekonomi Islam sebagai implikasi dari asas filsafat tauhid ada tiga, yaitu:
a. Kepemilikan
Kepemilikan oleh manusia bukanlah penguasaan mutlak terhadap sumber-sumber ekonomi, sebab sesungguhnya segala sesuatu yang ada di dunia adalah milik Allah. Manusia hanya berhak mengurus dan memanfaatkannya sesuai dengan aturan Allah. Kepemilikan perorangan tidak boleh meliputi sumber-sumber ekonomi yang menyangkut kepentingan hajat hidup orang banyak, tetapi menjadi milik umum atau negara. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud berikut ini:
” semua orang berserikat (memiliki kepemilikan bersama) dalam tiga hal, yaitu: rumput, air dan api.”
Ketiga sumber daya alam itu kini dikiaskan pada minyak dan gas bumi, barang tambang, dan kebutuhan pokok lainnya.
b. Keseimbangan
Keseimbangan merupakan nilai dasar yang mempengaruhi berbagai aspek tingkah laku ekonomi seorang Muslim. Asas keseimbangan ini misalnya terwujud dalam kesederhanaan, hemat, dan menjauhi pemborosan.
” orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir. Adalah (pembelanjaan ideal itu) di tengah-tengah antara yang demikian itu” (Q.S Al Furqan:67).
Keseimbangan yang dimaksud adalah keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat, keseimbangan antara kepentingan individu dan kepentingan umum, dan keseimbangan antara hak dan kewajiban.
C. Keadilan
Keadilan harus diterapkan di semua bidang ekonomi dalam proses produksi, konsumsi maupun distribusi. Selain itu, keadilan juga harus menjadi alat pengatur efisiensi dan pemberantasan pemborosan.
” jika kami hendak membinasakan suatu Negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan di negeri itu”( Q.S al-Isra’: 16).
Keadilan juga berarti kebijaksanaan dalam mengalokasikan sejumlah kecil kegiatan ekonomi tertentu bagi orang yang tidak mampu memasuki pasar, yaitu melalui zakat, infaq, dan sedekah kepada orang miskin, yang tidak ditentukan jenis, jumlah maupun waktunya.
Ketiga nilai dasar ekonomi Islam itu menurut Saefuddin ( Ali,1988: 17), merupakan pangkal nilai-nilai instrumental dari sistem ekonomi Islam yang berjumlah lima, yaitu: zakat, larangan riba, kerjasama, jaminan sosial, dan peranan negara. Kelima nilai instrumental strategis ini mempengaruhi tingkah laku ekonomi seorang Muslim, Masyarakat, dan pembangunan ekonomi pada umumnya (Ali, 1988: 9).

2.1.3 Perbedaan Sistem Ekonomi Islam Dengan Sistem Ekonomi Kapitalis dan Sistem Ekonomi Sosialis
Jika dipandang semata-mata dari tujuan dan prinsip ekonomi, maka tidak ada perbedaan antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lain. Sebab menurut Daud Ali, semua sistem ekonomi, termasuk sistem ekonomi Islam, memiliki tujuan yang sama, yaitu mengupayakan pemuasan atas berbagai keperluan hidup, baik hajat hidup pribadi maupun hajat hidup masyarakat secara keseluruhan. Di samping itu, setiap sistem ekonomi bekerja di atas motif ekonomi yang sama, yaitu berusaha mencapai hasil sebesar-besarnya dengan tenaga dan ongkos seminim-minimnya.
Namun jika dilihat dari perbedaan keperluan hidup yang harus dipenuhi, terdapat perbedaan dalam upaya mencapai tujuan, terutama dalam pelaksanaan prinsip ekonomi. Karena perbedaan-perbedaan itu pula, muncul beragam sistem ekonomi yang mempengaruhi pemikiran dan kegiatan ekonomi manusia sekarang ini, yaitu sistem ekonomi kapitalis dan sosialis. Di samping dua sistem itu, kini sedang dikembangkan sistem ekonomi Islam.
Sistem ekonomi Islam sangat berbeda dari ekonomi kapitalis maupun sosialis. Ekonomi Islam juga tidak berada di antara keduanya, karena ia sangat bertolak belakang dengan sistem ekonomi kapitalis yang lebih bersifat individual, dan sistem ekonomi sosialis yang memberikan hampir semua tanggung jawab kepada warganya. Ekonomi Islam menetapkan bentuk perdagangan serta penentuan yang boleh dan tidak boleh ditransaksikan.
Sistem ekonomi Islam adalah sistem ekonomi yang mandiri dan terlepas dari sistem-sistem ekonomi lainnya. Adapun yang membedakan sistem ekonomi Islam dengan sistem sistem-sistem ekonomi lainnya, sebagaimana diungkapkan oleh Suroso (Lubis, 2000:15), adalah:
1. Asumsi dasar dan norma pokok dalam proses maupun interaksi kegiatan ekonomi yang diperlakukan. Asumsi dasar sistem ekonomi Islam adalah syariat Islam. Syariat islam diberlakukan secara menyeluruh terhadap individu, keluarga, kelompok masyarakat, pengusaha dan pemerintah di dalam upaya mereka memenuhi kebutuhan hidupnya, baik untuk kebutuhan jasmani maupun rohani. Perintah akan melaksanakan ajaran islam dalam seluruh kegiatan umat islam dapat dilihat dalam Q.S Al-baqarah: 208.
2. Prinsip ekonomi Islam adalah penerapan asas efisiensi dan manfaat dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan alam. Hal ini dapat dilihat ketentuan dalam Q.S. al-Rum: 41.
3. Motif ekonomi Islam adalah mencari keseimbangan antara dunia dan akhirat dengan jalan beribadah dalam arti yang luas. Persoalan motif ekonomi menurut pandangan Islam dapat dilihat ketentuannya dalam Q.S. al-Qashash: 77.

2.2 Respon Islam Atas Transaksi Ekonomi Modern
2.2.1 E-Commerce (Perdagangan Elektronik)
Teknologi berupa banyak aspek bisnis dan aktivitas pasar. Dalam bisnis perdagangan misalnya, kemajuan teknologi telah melahirkan metode transaksi yang dikenal dengan istilah E-Commerce (Electronic Commerce). Menurut Raharjo, E-Commerce adalah suatu cara berbelanja atau berdagang secara online dengan memanfaatkan internet yang di dalamnya terdapat website yang dapat menyediakan layanan get and deliver. Dalam istilah lain, E-Commerce adalah bisnis online yang menggunakan media elektronik internet secara keseluruhan, baik dalam hal pemasaran, pemesanan, pengiriman, serta transaksi jual-beli.
Dalam pandangan Islam, jual-beli mempunyai rukun dan syarat yang harus dipenuhi agar sah. Menurut pendapat mayoritas ulama, rukun jual beli ada tiga. Pertama, orang yang bertransaksi (penjual dan pembeli), dengan syarat berakal dan dapat membedakan baik-buruk. Kedua, sighat (ijab dan qabul), ijab menunjukkan keinginan untuk melakukan transaksi, dan qabul mengindikasikan kerelaan untuk menerima ijab. Ketiga, barang sebagai objek transaksi, dengan syarat barangnya dapat dimanfaatkan, milik orang yang melakukan akad, mampu menyerahkan nya, dan barang yang diakadkan ada pada diri orang tersebut.
Dalam permasalahan E-Commerce, fikih memandang bahwa transaksi bisnis di dunia maya diperbolehkan karena maslahat. Maslahat adalah mengambil manfaat dan menolak bahaya dalam rangka memelihara tujuan syara’. Bila E-Commerce dipandang seperti layaknya perdagangan dalam Islam, maka dapat dianalogikan sebagai berikut. Pertama, penjualnya adalah merchant (Internet Service Provider atau ISP), sedangkan pembelinya disebut customer. Kedua, objek adalah barang dan jasa yang ditawarkan dengan berbagai informasi, profil harga, gambar barang, serta status perusahaan. Ketiga, sighat (ijab- kabul) dilakukan dengan payment gateway, yaitu software pendukung (otoritas dan monitor) bagi acquirer, serta berguna untuk service online.
Komoditi yang diperdagangkan dalam E-Commerce dapat berupa komoditi digital dan komoditi non digital. Untuk komoditi digital seperti electronic newspaper, e-books, digital library, virtual school, software program aplikasi komputer dan sebagainya, dapat langsung diserahkan melalui media internet kepada pembeli, misalnya pembeli mendownload produk tersebut dari website yang ditentukan. Sedang untuk komoditi non digital, karena komoditi ini tidak dapat diserahkan secara langsung melalui internet, maka prosedur pengirimannya harus sesuai kesepakatan bersama, begitu juga spesifikasi komoditi, waktu dan tempat penyerahan. Sebelum transaksi berlangsung perlu disepakati batas waktu penyerahan komoditi.

2.2.2 Bunga Bank
Bunga bank adalah ketetapan nilai mata uang oleh bank yang memiliki tenggang waktu, untuk kemudian pihak bank memberikan kepada pemiliknya atau menarik dari peminjaman sejumlah tambahan tetap.
Menurut UU Nomor 7 Tahun 1992 (pasal 1, ayat 1) tentang perbankan, yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak (Lubis, 2000: 8).
Dari definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa bank merupakan perusahaan yang memperdagangkan utang-piutang, baik berupa uang sendiri maupun dana masyarakat, dan mengedarkan uang tersebut untuk kepentingan umum. Dilihat dari sistem pengelolaannya, bank dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu bank konvensional dan bank syariah.
a. Bank Konvensional
Bank konvensional adalah bank yang menggunakan sistem bunga dalam bertransaksi dengan nasabah. Bank jenis ini ada dua macam, yaitu bank umum dan bank perkreditan. Dalam era globalisasi sekarang ini, umat Islam boleh dikatakan hampir tidak dapat menghindarkan diri dari bertransaksi dengan bank konvensional, termasuk dalam hal kegiatan ibadah (misalnya ibadah haji). Di sisi lain, dalam bidang aktivitas perekonomian nasional dan internasional serta era perdagangan bebas dewasa ini, penggunaan jasa bank konvensional tidak dapat dike sampingkan.
Pokok persoalannya sekarang ialah bagaimana pandangan hukum Islam terhadap umat Islam yang menggunakan jasa bank konvensional. Pertanyaan ini mendapatkan jawaban yang berbeda dari para ulama. Dengan mengambil dasar Q.S. Ali-imron: 130, ada ulama yang mengatakan haram, mubah, dan mutasyabihat (tidak jelas halal-haramnya).
b. Bank Syariah dan Praktiknya
Secara sederhana bank syariah adalah bank yang dirancang sesuai dengan ajaran atau syariat Islam. Perbankan Islam yang beroperasi atas prinsip syirkah (mitra usaha) telah diakui di seluruh dunia. Artinya, seluruh bagian sistem perbankan yakni pemegang saham, depositor, investor, dan peminjam turut berperan serta atas dasar mitra usaha. Untuk Indonesia, pendirian bank syariah sudah lama dicita-citakan oleh umat islam. Hal ini terungkap dalam keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah yang diadakan di Sidoarjo pada tahun 1968.
Kedudukan bank syariah dalam sistem perbankan nasional mendapat pijakan yang kokoh setelah dikeluarkannya UU Nomor 7 Tahun 1992 yang diperkuat dengan PP Nomor 72 Tahun 1992 tentang bank berdasarkan prinsip bagi hasil. Hal lain yang membedakan bank syariah dan bank konvensional adalah, selain dituntut untuk tunduk pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, pengelolaannya dibatasi dengan pengawasan yang dilakukan oleh dewan syariah. Dengan kata lain, pengelolaan dan produk bank syariah ini harus mendapat persetujuan terlebih dulu dari Dewan Pengawas Syariah sebelum diluncurkan ke tengah-tengah masyarakat.
Perbedaan pokok antara bank konvensional dengan bank syariah adalah sistem operasionalnya. Pada bank konvensional, sistem operasionalnya didasarkan pada bunga, sedangkan bank syariah dalam menjalankan usahanya minimal mempunyai lima prinsip operasional yang terdiri dari: sistem simpanan, sistem bagi hasil, margin keuntungan, sewa dan fee (Antonio, 1994: 138). Selain itu ada pula akad qardh, hiwalah, rahn, wakalah, kafalah yang semuanya menjadi ciri khas sekaligus pembeda antara bank syariah dan bank konvensional.
Akan tetapi dengan banyaknya pelayanan dan transaksi, sering dijumpai praktik menyimpang dari perbankan syariah. Misalnya dalam akad musyarakah, penentuan margin sepenuhnya dilakukan oleh Bank Syariah. Penentuan sepihak tidak diperbolehkan karena dalam akad harus ada keterbukaan dari pihak bank. Kebanyakan bank syariah juga tidak menyerahkan barang kepada nasabah, tetapi memberi uang kepada nasabah sebagai wakil untuk membeli barang yang dibutuhkan. Hal ini menyimpang dari aturan fikih, karena ada dua transaksi dalam satu akad yaitu wakalah dan murabahah. Dengan transaksi yang demikian, bisa saja nasabah melakukan penyelewengan terhadap dana yang diberikan oleh bank syariah.
Selain itu, dalam praktik, masih ada bank syariah yang hanya mau memberikan pembiayaan pada usaha yang sudah berjalan selama kurun waktu tertentu, artinya bank memilih calon nasabah (mudharib). Pembagian return pembiayaan tidak berdasarkan pada sistem bagi hasil dan rugi (profit and loss sharing) tetapi mengunakan sistem bagi pendapatan (revenue sharing). Sistem ini dipilih karena bank syariah belum sepenuhnya berani berbagi resiko secara penuh. Jika keadaanya seperti ini maka dapat dikatakan bahwa kegiatan bank syariah belum secara sempurna mengacu pada tujuan ekonomi islam (Hidayat, t.t).

2.2.3 Hukum Bunga Bank : Riba atau Bukan?
Melihat fungsi dan peranannya yang bermanfaat bagi manusia dan masyarakat dalam perekonomian modern sekarang, keberadaan bank dapat dibenarkan dalam ajaran islam. Permasalahannya adalah, apakah bunga bank yang dipungut oleh bank dan bunga yang diberikan kepada nasabah termasuk riba atau bukan. Jawaban terhadap pertanyaan ini sangat erat hubungannya dengan pemahaman seseorang atau sekelompok orang tentang riba sebagai hasil ijtihad mereka. Oleh karena itu para ulama sampai saat ini belum berkonsensus secara bulat. Berikut pendapat para ulama yang berbeda-beda tersebut.
1) Abu Zahra, Guru Besar Hukum Islam dari Universitas Kairo Mesir, mengatakan bahwa bunga (rente) adalah sama dengan riba nasi’ah yang dilarang dalam islam. Akan tetapi karena sistem perekonomian sekarang dan peranan bank dan bunga tidak dapat dihapuskan, maka umat islam dapat melakukan transaksi melalui bank berdasarkan keadaan darurat.
2) Menurut Mustafa Ahmad Az Zaqra, Guru Besar Hukum Islam dan Hukum Perdata, bunga dalam hutang piutang yang bersifat konsumtif adalah riba, sedangkan bunga dalam hutang piutang yang bersifat produktif tidak sama dengan riba nasi’ah.
3) A. Hasan, ahli tafsir dan tokoh Islam Persatuan Islam (PERSIS), berpendapat bahwa bunga bank bukanlah riba yang diharamkan karena tidak bersifat berlipat ganda, sebagaimana disebut dalam Q.S. Ali Imron 130.
4) Hasil muktamar Muhammadiyah tahun 1968 di Sidoarjo menyatakan bahwa bunga yang diberikan oleh bank milik negara kepada para nasabahnya termasuk dalam kategori tidak jelas hukumnya (Ali, 1988: 12-13).
5) Hasil lokakarya Majelis Ulama Indonesia yang diselenggarakan pada tanggal 19-20 Agustus 1990 tentang status bunga bank bunga menyebutkan bahwa untuk menghindari kesulitan, maka dapat dimungkinkan adanya rukhshah (keringanan hukum) jika dapat dipastikan adanya kebutuhan (Lubis, 2000: 42-46).

2.3 Etos Kerja dan Kemandirian Hidup
2.3.1 Etos Kerja Islami
Kerja adalah sebuah aktivitas yang telah direncanakan dan dilakukan tahap demi tahap agar bisa mendapatkan nilai lebih demi memenuhi kebutuhan hidup serta memberikan manfaat bagi seluruh manusia (Agung, 2007: 112).
Dengan pemahaman tersebut, sebuah pekerjaan tidak mengenal waktu dan tempat sehingga dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun. Adalah persepsi yang keliru jika memahami pekerja adalah mereka yang hanya bekerja pada sebuah instansi pemerintah atau pada sebuah perusahaan. Seorang penggembala kambing adalah pekerja karena ia memiliki motif untuk mendapatkan nilai tambah, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.
Seorang muslim harus memiliki prinsip bahwa bekerja adalah ibadah dengan menjadikan taqwa sebagai landasannya. Sehingga yang menjadi tujuan utamanya adalah meraih ridho Allah, tidak semata mengejar materi belaka. Selain itu seorang muslim harus juga memperhatikan etika kerja, yaitu:
a. Menyadari pekerjaannya terkait dengan Allah, sehingga membuat dia bersikap cermat, bersungguh-sungguh dalam bekerja, dan menjalani hubungan yang baik dengan relasinya demi memperoleh keridhaan Allah
b. Bekerja dengan cara yang halal dalam seluruh jenis pekerjaan
c. Tidak memberikan beban berlebihan pada pekerja, alat produksi atau binatang dalam bekerja. Semua harus dipekerjakan secara profesional dan wajar
d. Tidak melakukan pekerjaan yang melanggar aturan Allah
e. Profesional dalam setiap pekerjaan (Ismail, 2012).
Untuk mendapatkan kesuksesan dalam bekerja dan mendapatkan rejeki yang baik dan berkah, seorang muslim dituntut untuk memiliki etos kerja yang tinggi. Etos berasal dari kata Yunani ‘ethos’ yang berarti sikap, kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat. Etos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh, budaya, serta sistem nilai yang diyakini (Ismail,2012). Dengan etos kerja yang kuat, sebuah pekerjaan akan mencapai hasil maksimal.
Agar dalam bekerja bias memperoleh kesuksesan dan keridhaan, terdapat sejumlah panduan yang perlu dipatuhi, diantaranya adalah:
a. Mulailah mencari pekerjaan yang layak
b. Jadilah pekerja yang jujur saat mengembangkan usaha
c. Carilah mitra kerja yang baik dan ajak mereka secara baik pula
d. Gunakan cara yang baik dalam bekerja supaya memperoleh hasil yang baik
e. Setelah memperoleh upah, keluarkanlah sebagian rejeki yang diperoleh untuk zakat, infak atau sedekah
f. Bersyukurlah atas nikmat Allah yang diperoleh dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya
Senada dengan pendapat diatas, Uchrowi menyatakan bahwa untuk membuka pintu kesuksesan diperlukan lima kunci yaitu : berdoa, bercita-cita, bekerja keras, bekerjasama dan berhijrah. Sehingga sukses menurutnya adalah orang yang memiliki peningkatan setiap harinya, dan memastikan orang tersebut berimbang dalam urusan dunia dan akhirat yang dapat membawa keberkahan dan kebahagiaan dalam hidup (Anonim,2013-2014).
Tasmara (2002:73-105) menjelaskan bahwa etos kerja berhubungan dengan beberapa hal penting seperti:
a. Orientasi kemasa depan, yaitu segala sesuatu direncanakan dengan baik (waktu maupun kondisi) agar hari esok lebih baik dari kemaren.
b. Menghargai waktu. Disiplin waktu merupakan hal yang sangat penting guna efisiensi dan efektivitas bekerja.
c. Tanggung jawab, yaitu memberikan asumsi bahwa pekerjaan yang dilakukan merupakan suatu yang harus dikerjakan dengan ketekunan dan kesungguhan
d. Hemat dan sederhana agar pengeluaran bermanfaat untuk masa depan
e. Persaingan sehat, yaitu dengan memacu diri agar saat bekerja tidak mudah patah semangat dan berusaha menambah kreativitas diri
Etos kerja islamu memiliki beberapa karakteristik, diantaranya adalah: baik dan bermanfaat, kualitas kerja yang mantap, kerja keras, tekun dan kreatif, berkompetisi dan tolong-menolong, objektif(jujur), disiplin atau konsekuen, konsisten dan istiqamah, percaya diri dan kemandirian, efisiensi dan hemat.
Dalam hadis Nabi juga disebutkan bahwa Allah sungguh sangat mencintai orang yang berjerih payah untuk mencari yang halal (HR. al-Dailami), dan orang yang bekerja dengan tekun (HR. Baihaqi). Bahkan, dalam hadis lain dijelaskan bahwa hanya dengan kesusahpayaan dalam mencari nafkah dapat menghapuskan dosa yang tidak bias dihapus dengan pahala sholat dan sedekah atau haji (HR. at-Thabrani).

2.3.2 Kemandirian Dalam Islam
Dalam islam, kemandirian adalah melakukan usaha sekuat-kuatnya untuk tidak menjadi benalu bagi orang lain selagi seseorang mampu, tanpa melupakan peran Allah SWT. Dengan kata lain, konsep kemandirian islam dibangun atas dasar tauhid sehingga manusia cukup bergantung hanya kepada Allah SWT tanpa menafikkan kerjasama dengan sesame untuk melipatkangandakan kinerja. Kemandirian islam berakar dari satu kata kunci, yaitu harga diri (Abdurahman, 2012).
Dalam hidup, seseorang pasti membutuhkan orang lain, akan tetapi menikmati hidup dengan membebani orang lain adalah hidup yang tidak mulia. Mandiri adalah sikap mental yang membuat seseorang lebih tenang dan tentram.
Islam mengutamakan pemahaman bahwa setiap manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam keadaan terbaik (Q.S. At-tiin:4). Potensi yang dimiliki oleh manusia menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki peluang untuk menjadi mulia. Oleh karenanya setiap muslim tidak layak menjadi beban orang lain. Muslim yang mentalnya peminta dianggap rendah harga dirinya, sebagaimana sabda Nabi SAW bahwa tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah (HR. Muslim).
Berusaha sekuat tenaga untuk tidak menjadi beban bagi siapapun, namun tetap menjadikan Allah SWT sebagai tempat berharap dan meminta pertolongan. Perilaku Rasulullah SAW dalam bekerja patut dicontoh dan dijadikan teladan bagi seluruh aktivitas seorang muslim. Semangat kerja yang dilandasi dengan ketauhidan kepada Allah SWT akan melahirkan produktivitas yang dapat menghadirkan manfaat bagi dirinya, usahanya dan orang lain didunia maupun diakhirat.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sistem ekonomi islam adalah sekumpulan dasar-dasar umum ekonomi yang disimpulkan dari al-Qur’an dan sunnah, dan merupakan bangunan perekonomian yang didirikan siatas landasan dasar-dasar tersebut sesuai dengan kondisi lingkungan dan masa tertentu. Sistem ekonomi Islam sangat berbeda dari ekonomi kapitalis maupun sosialis. Ekonomi Islam juga tidak berada di antara keduanya, karena ia sangat bertolak belakang dengan sistem ekonomi kapitalis yang lebih bersifat individual, dan sistem ekonomi sosialis yang memberikan hampir semua tanggung jawab kepada warganya. Ekonomi Islam menetapkan bentuk perdagangan serta penentuan yang boleh dan tidak boleh ditransaksikan.
Untuk mendapatkan kesuksesan dalam bekerja dan mendapatkan rejeki yang baik dan berkah, seorang muslim dituntut untuk memiliki etos kerja yang tinggi. Etos berarti sikap, kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat. Etos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh, budaya, serta sistem nilai yang diyakini. Dengan etos kerja yang kuat, sebuah pekerjaan akan mencapai hasil maksimal.
Dalam hidup, seseorang pasti membutuhkan orang lain, akan tetapi menikmati hidup dengan membebani orang lain adalah hidup yang tidak mulia. Mandiri adalah sikap mental yang membuat seseorang lebih tenang dan tentram.
Islam mengutamakan pemahaman bahwa setiap manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam keadaan terbaik (Q.S. At-tiin:4). Potensi yang dimiliki oleh manusia menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki peluang untuk menjadi mulia. Oleh karenanya setiap muslim tidak layak menjadi beban orang lain. Muslim yang mentalnya peminta dianggap rendah harga dirinya, sebagaimana sabda Nabi SAW bahwa tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah (HR. Muslim).
Berusaha sekuat tenaga untuk tidak menjadi beban bagi siapapun, namun tetap menjadikan Allah SWT sebagai tempat berharap dan meminta pertolongan. Perilaku Rasulullah SAW dalam bekerja patut dicontoh dan dijadikan teladan bagi seluruh aktivitas seorang muslim. Semangat kerja yang dilandasi dengan ketauhidan kepada Allah SWT akan melahirkan produktivitas yang dapat menghadirkan manfaat bagi dirinya, usahanya dan orang lain didunia maupun diakhirat.

Lampiran
Pertanyaan Diskusi

1. Prinsip ekonomi mencari keuntungan sebesar-besarnya, itu bagaimana menurut anda?
2. Kenapa sistem ekonomi islam berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis dan sosialis?
3. Menurut anda wanita lebih baik kerja atau dirumah?
4. Menurut anda bunga bank riba atau bukan?
5. Pada slide yang anda tayangkan, itusemua membahas tentang rukun dan syarat jual beli barang. Bagaimana dengan jual beli jasa apakah syarat dan rukunnya sama?

Jawaban :
1. Prinsip ekonomi yang mengambil keuntungan sebesar-besarnya yakni: jika keuntungan tersebut bermanfaat atas pihak yang bersangkutan masih diperbolehkan prinsip tersebut digunakan, tetapi kalua tidak ada untungnya dari berbagai pihak maka hukumnya riba, hal ini diharamkan.
2. Sistem ekonomi islam menurut kelompok kami adalah sistem ekonomi yang pas untuk tatanan kehidupan, karena keadilan dalam berekonomi insyaallah membuahkan keadilan, tidak ada pihak yang dirugikan. Jika kita menggunakan sistem ekonomi kapitalis disini peran masyarakatlah yang bebas memiliki hak sepenuhnya menentukan untuk berekonomi. Dari kebebasan yang ada, pemerintah hanya bias mengatur , disini peran pemerintah bias dikatakan rugi karena yang menghasilkan keuntungan hanyalah masyarakatnya saja karena masyarakat yang paling berperan aktif dalam perekonomian serta mencari keuntungan. Sedangkan sistem ekonomi sosialisdisini pemerintah yang mengatur perekonomian secara penuh dan pihak masyarakat dibatasi dalam hal perekonomian, maka disini yang menguntungkan adalah pihak pemerintah sedangkan masyarakat ada dua kemungkinan bias diuntungkan ataupun bias dirugikan. Tetapi apabila hak masyarakat dibatasi tentunya masyarakatlah yang rugi.
3. Menurut kelompok kami, bekerja bukanlah tuntutan dari wanita, wanita mau berkarir silahkan tidak mau berkarir juga tidak apa-apa. Ini kalua masih lajang ataupun belum berumah tangga. Jika wanita sudah berumah tangga lalu wanita tersebut bekerja, maka sebaiknya wanita tersebut meminta izin dulu kepada suaminya. Apabila suaminya mengijinkan ya tidak apa-apa bekerja, jika suaminya melarang ya jangan dilakukan. Kalua masih lajangkan ya terserah diri kita masing-masing. Kalua ingin membantu orang tua ya tidak apa-apa kita bekerja, kerja tidak hanya untuk memenuhi tuntutan kehidupan dunia, tapi niatkanlah kerja sebagai amalan ibadah kepada Allah SWT. Agar rejeki yang kita dapatkan bernilai ibadah
4. Bunga bank termasuk riba, sehingga bunga bank diharamkan oleh islam. Riba bias saja terjadi pada pinjaman yang bersifat konsumtif, maupun pinjaman yang bersifat produktif. Dan pada hakikatnya riba dalam bunga bank memberatkan peminjam.
5. Rukun dan syarat pada jual beli jasa yaitu sama hanya perkataan barang diganti dengan jasa

Sebelah Kiri : Siti Nur Asiyah
Sebelah Kanan : Asfiyanti Latifah

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *