Added by on 17/05/2019

Setiap dari kita pasti berharap semua ibadah yang dilakukan di bulan Ramadan diterima oleh Allah, mulai dari puasa, shalat, sedekah, bacaan Alquran dan lain sebagainya. Hal ini karena hanya dengan diterimanya ibadah tersebut, maka kita akan mendapatkan pahala, kebaikan dan ampunan dari Allah.

 

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه وما تأخر

Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan hanya mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Maksudnya orang itu beriman kepada Allah dan ridho dengan kewajiban berpuasa, serta hanya mengharap pahala dan balasan dari Allah semata. Maka orang yang demikian ini akan mendapatkan ampunan dari dosa-dosa (kecilnya) yang telah dia lakukan.

 

Hanya saja tidak ada satu pun dari kita yang dapat memastikan bahwa sebuah ibadah ditolak atau diterima oleh Allah, baik ibadah diri sendiri maupun ibadah orang lain.

 

KONDISI ulama terdahulu  ketika Ramadhan berakhir, sungguh menakjubkan. Kepergian bulan agung ini, seolah-olah menjadi musibah besar bagi mereka sehingga tak jarang di antara mereka yang merasa sedih, pilu, dan merasa kehilangan.

 

Bagaimana tidak, momentum tahunan yang penuh berkah, ampunan, dan pembebasan dari api neraka ini terasa begitu singkat, sedangkan mereka belum tahu pasti apakah amalan-amalan yang dilakukan sudah diterima dan apakah dosa-dosa yang menggunung tinggi sudah diangkat?

 

Ibnu Rajab al-Hanbali ketika menggambarkan kondisi salaf, beliau menjelaskan bahwa enam bulan sebelum Ramadhan menjelang, mereka berdoa dengan giat agar disampaikan kepada bulan agung ini. Sedangkan enam bulan sesudahnya, mereka sangat gigih berdoa agar segenap amalan mereka diterima Allah Subhanahu Wata’ala (Lathâ`ifu al-Ma’arif, 209). Persis setelah Ramadhan berakhir, mereka menampakkan kesedihan, dan merasa kehilangan. Di samping itu, mereka sangat antusias saling menasihati agar bisa meneruskan ketaatan sepanjang tahun.

 

 

Sebuah ibadah ditolak atau diterima merupakan rahasia Allah karena hanya Allah yang berhak menentukan ibadah diterima atau tidak. Kita hanya dapat melihat tanda-tanda penerimaan Allah atas ibadah kita.

 

Di antara tanda bahwa ibadah kita di bulan Ramadan diterima oleh Allah adalah ketika kita tetap istiqamah melakukan ibadah tersebut setelah bulan Ramadan selesai. Kita tetap istiqamah melanjutkan puasa sunah di bulan Syawal, qiyamul lail, membaca Alquran dan sedekah setelah bulan Ramadan. Hal ini sebagaimana perkataan Ibnu Rajab Al-Hanbali:

 

أن معاودة الصيام بعد صيام رمضان علامة على قبول صوم رمضان فإن الله إذا تقبل عمل عبد وفقه لعمل صالح بعده

 

“Membiasakan puasa setelah puasa Ramadan merupakan tanda diterimanya amal puasa di bulan Ramadan. Sesungguhnya Allah jika menerima suatu amal dari seorang hamba, maka Allah memberinya taufik untuk melakukan amal soleh setelahnya.”

 

Nabi Saw. sendiri mengajarkan keistiqamahan dalam melakukan ibadah meskipun ibadah tersebut sedikit. Dalam sebuah hadis riwayat imam Muslim dari Sayyidah Aisyah, dia berkata bahwa Nabi Saw. bersabda;

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinyu walaupun itu sedikit.”

 

Juga di antara tanda ibadah puasa dan ibadah yang lain selama bulan Ramadan diterima oleh Allah adalah ketika akhlak dan budi pekerti kita kepada orang lain menjadi lebih baik.

 

 

Setelah bulan Ramadan kita tetap tidak suka berbuat dusta dan ghibah, bahkan tidak sedikit pun terbersit di hati kita untuk berburuk sangka kepada orang lain. Ketika ibadah tertentu diterima oleh Allah, maka segera akan membuahkan kebaikan bagi pelakunya. Mengenai hal ini Syaikh Ibnu Athaillah pernah berkata;

من وجد ثمرة عمله عاجلاً فهو دليل على وجود القبول

“Siapa yang segera memetik buah dari amalnya, maka itu menunjukkan amalnya telah diterima.”

 

 

Semoga Allah menerima amal ibadah ramadhan ini dan mendapatkan ampunan dan ketakwaan,

 

Category:

Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*